Pelapisan sosial (stratifikasi sosial)
dan kesamaan derajat
A.
Pelapisan Sosial (Stratifikasi Sosial).
1.
Pengertian Dan Beberapa Macam Stratifikasi Sosial
Pelapisan
Sosial biasa disebut juga dengan Social Stratification. Istilah Strtifikasi
atau Stratification berasal dari kata STRATA atau STRATUM yang berarti LAPISAN.
Sejumlah individu yang mempunyai kedudukan (status) yang sama menurut ukuran
masyarakatnya, dikatakan berada dalam suatu lapisan atau stratum.
Berikut
ini merupakan defenisi dari stratifikasi sosial menurut para ahli diantaranya:
a. Pitirim
A. Sorokin“Pelapisan masyarakat adalah perbedaan
penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat
(hierarchis).”
b. Theodorson
dkk dalam Dictionary of Siciology“Pelapisan masyarakat
berarti jenjang status dan peranan yang relative permanent yang terdapat di
dalam system social (dari kelompok kecil sampai ke masyarakat) di dalam hal
pembedaan hak, pengaruh, dan kekuasaan.
Ada tiga macam stratifikasi sosial.
a.
Stratifikasi
sosial bersifat tertutup, yaitu stratifikasi dimana seorang sulit untuk
mengadakan mobilitas secara vertikal.
b.
Stratifikasi
sosial bersifat terbuka, yaitu stratifikasi dimana seseorang dapat dengan mudah
mengadakan mobilitas, baik secara vertikal ke atas maupun secara vertikal ke
bawah, karena peluang untuk bermobilitas sangat besar.
c.
Stratifikasi
campuran, merupakan kombinasi dari keduanya.
Secara umum, pelapisan masyarakat di
negara-negara demokratis meliputi enam golongan berikut.
a.
Elite
: orang-orang kaya dan orang-orang yang menempati kedudukan/pekerjaan yang oleh
masyarakat sangat dinilai/dihargai.
b.
Semi
profesional : pegawai kantor, pedagang, teknisi yang berpendidikan menengah,
dan mereka yang tidak bergelar.
c.
Skill
: orang-orang yang mempunyai keterampilan mekanis, teknisi, dan kapster.
d.
Semi
skill : pekerja pabrik tanpa keterampilan, supir, pelayan restaurant.
e.
Unskill
: pramuwisma, tukang kebun, pasukan kuning (pegawai kebersihan jalan).
2.
Wujud Pelapisan atau Stratifikasi Sosial
Dasar
dari sistem sosial masyarakat kuno adalah pembagian dan pemberian kedudukan
berhubungan dengan jenis kelamin. Tetapi ketentuan pembagian kedudukan antara
laki-laki dan perempuan semata-mata ditentukan oleh sistem kebudayaan
masyarakat itu sendiri.
Contoh: kedudukan
laki-laki di Jawa berbeda dengan di Minangkabau, di Jawa kekuasaan keluarga
ditangan ayah sedangkan di Minangkabau tidak demikian. Dalam pembagian kerjapun
setiap suku mempunyai cara sendiri, di Irian atau di Bali wanita harus bekerja
lebih keras dibanding laki-laki.
Dalam organisasi masyarakat primitif pelapisan masyarakat sudah
ada hal itu terwujud dalam bentuk:
a. Adanya
kelompok berdasarkan jenis kelamin dan umur dengan pembedaan hak dan kewajiban.
b. Adanya
kelompok pemimpin suku yang berpengaruh dan memiliki hak istimewa.
c. Adanya
pemimpin yang paling berpengaruh
d. Adanya
orang-orang yang dikecilkan diluar kasta dan diluar perlindungan hukum
e. Adanya
pembagian kerja dalam suku itu sendiri
f. Adanya
pembedaan standar ekonomi dan ketidaksamaan ekonomi secara umum
3.
Proses
Terjadinya Pelapisan Sosial
a. Terjadi
dengan sendirinya, proses ini berjalan dengan sesuai dengan pertumbuhan
masyarakat, orang yang menduduki posisi tertentu bukan atas kesengajaan tetapi
secara otomatis misalnya karena usia tua, kepandaian lebih, kerabat pembuka
tanah, memiliki bakat seni, sakti dll.
b. Terjadi
dengan sengaja untuk mengejar tujuan bersama. Dalam pelapisan ini ditentukan
secara jelas adanya wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepada seseorang.
Sistem pelapisan yang dibentuk dengan sengaja ini dapat dilihat dalam
organisasi pemerintahan, partai politik, persahaan besar, perkumpulan resmi dan
lain-lain. Dalam organisasi yang disusun dengan cara ini mengandung dua sistem
yaitu :
1)
Sistem fungsional, yaitu pembagian kerja
pada kedudukan yang sederajat.
2)
Sistem skalar, pembagian kekuasaan
menurut jenjang dari atas kebawah. pembagian kedudukan ini dalam organisasi
formal pada pokoknya agar organisasi itu dapat bergerak secara teratur dan
mencapai tujuan yang diinginkan. Tetapi terdapat kelemahan-kelemahan :
a) Kelemahan
dalam menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakat.
b) Membatasi
kemampuan individual yang sebenarnya mampu tetapi karena kedudukannya maka
tidak memungkinkan untuk mengambil inisiatif.
4.
Perbedaan Sistem Pelapisan Dalam Masyarakat
a. Sistem pelapisan
masyarakat yang tertutup.
Di dalam system ini perpindahan anggota masyarakat ke lapisan yang
lain baik ke atas maupun ke bawah tidak mungkin terjadi, kecuali ada hal-hal
yang istimewa. Di dalam system yang demikian itu satu-satunya jalan untuk dapat
masuk menjadi anggota dari suatu lapisan dalam masyarakat adalah karena
kelahiran.
Masyarakat pelapisan
tertutup dapat kita temui di Negara India dan masyarakat pelapisan tertutup
dapat dibagi menjadi lima macam, diantaranya :
1) Kasta Brahmana : terdiri
dari golongan-golongan pendeta dan merupakan kasta yang tertinggi.
2) Kasta Ksatria : terdiri
dari golongan bangsawan dan tentara yang dipandang sebagai lapisan kedua.
3) Kasta Waisya : terdiri
dari golongan pedagang yang dipandang sebagai lapisan menengah ketiga.
4) Kasta Sudra : terdiri
dari golongan rakyat jelata.
5) Paria : terdiri dari
mereka yang tidak mempunyai kasta (gelandangan, peminta, dan sebagainya).
Sistem stratifikasi
social yang tertutup biasanya juga kita temui di dalam masyarakat feudal atau
masyarakat yang berdasarkan realisme.
b. Sistem pelapisan
masyarakat yang terbuka
Sistem pelapisan seperti ini dapat kita temui di dalam masyarakat
di Indonesia sekarang ini. Setiap orang diberi kesempatan untuk menduduki
segala jabatan dila ada kesempatan dan kemampuan untuk itu. Tetapi di samping
itu orang juga dapat turun dari jabatannya bila dia tidak mampu
mempertahankanNYA. Sistem pelapisan mayarakat terbuka sangat menguntungkan.
Sebab setiap warga masyarakat diberi kesempatan untuk bersaing dengan yang
lain.
5.
Teori
Pelapisan Sosial.
Beberapa
teori pelapisan sosial berdasarkan pembagian kelasnya diantaranya:
a. Masyarakat
terdiri dari kelas atas/ upper class, dan kelas bawah/ lower class
b. Masyarakat
terdiri dari 3 kelas, upper class, middle class, lower class
c. Masyarakat
terdiri dari uuper class, upper middle class, lower middle class, lower class
Teori tentang pelapisan masyarakat
menurut para ahli :
a. Aristoteles,
yaitu tiap negara terdapat tiga unsur yaitu mereka yang kaya sekali, mereka
yang melarat sekali dan mereka yang berada di tengahnya.
b. Prof.
Dr. Selo sumarjan dan Soelaiman Soemardi
SH.MA : selama dalam masyarakat ada yang dihargai oleh masyarakat itu maka barang itu akan menjadi bibit yang dapat
menumbuhkan adanya sistem berlapis-lapis dalam masyarakat.
c. Vilfredo
Pareto, sarjana Italia menyebutkan bahwa ada dua kelas yang berbeda setiap
waktu yaitu golongan elit dan non elit. Pangkal perbedaan adalah kecakapan,
watak, keahlian, dan kapasitas orang yang berbeda-beda.
d. Gaotano
Mosoa, seorang sarjana Italia menyebutkan bahwa dalam masyarakat selalu muncul
dua kelas yaitu kelas pemerintah dan kelas yang diperintah.
1. Karl
Max, mengatakan ada dua macam kelas dalam masyarakat yaitu kelas yang memiliki
tanah dan alat-alat produksi lainnya dan kelas yang hanya memiliki tenaga untuk
disumbangkan dalam prosesproduksi.
Ukuran atau kriteria dalam menggolongkan
masyarakat kedalam pelapisan sosial adalah:
a. Ukuran
kekayaan, orang memiliki kekayaan terbanyak masuk dalam kelas teratas.
b. Ukuran
kekuasaan, orang yang memiliki wewenang terbesar menempati lapisan sosial
teratas.
c. Ukuran
kehormatan, orang-orang yang paling disegani mendapat atau menduduki lapisan
sosial teratas.
d. Ukuran
ilmu pengetahuan.
6.
Faktor
Pendorong Terjadinya Stratifikasi Sosial
Beberapa kondisi umum yang mendorong
terciptanya stratifikasi sosial dalam masyarakat menurut Huky (1982) adalah
sebagai berikut.
a. Perbedaan ras dan budaya. Perbedaan
ciri biologis, seperti warna kulit, latar belakang etnis, budaya pada
masyarakat tertentu dapat menyebabkan pembagian sosial tertentu. Misalnya,
pelapisan atas dasar warna kulit pada masyarakat Afrika Selatan pada zaman
Apartheid atau anggapan masyarakat Eropa sebelum Perang Dunia II yang
mengatakan bahwa kaum kulit putih adalah lapisan masyarakat paling atas.
b. Pembagian tugas yang terspesialisasi.
Posisi-posisi dalam spesialisasi ini berkaitan dengan perbedaan fungsi
stratifikasi dan kekuasaan dari order sosial yang muncul. Perbedaan posisi atau
status anggota masyarakat berdasarkan pembagian kerja ini terdapat dalam setiap
masyarakat, baik pada masyarakat primitif maupun pada masyarakat yang sudah
maju.
c. Kelangkaan. Stratifikasi lambat laun
terjadi karena alokasi hak dan kekuasaan yang jarang atau langka. Kelangkaan
ini terasa bila masyarakat mulai membedakan posisi, alat-alat kekuasaan, dan
fungsi-fungsi yang ada dalam waktu yang sama. Kondisi yang mengandung perbedaan
hak dan kesempatan di antara para anggota masyarakat dapat menciptakan
stratifikasi sosial.
Secara umum, stratifikasi sosial
terbentuk karena hal-hal berikut.
a. Tugas dan penempatan seseorang dalam
masyarakat.
b. Hadiah (reward) berdasarkan
penilaian materi/non materi.
c. Kelangkaan pekerjaan karena
memerlukan keahlian/keterampilan.
Adapun Ukuran yang dipakai untuk
menggolongkan seseorang pada suatu lapisan tertentu adalah ukuran kumulatif dan
bukan ukuran tunggal.
a. Kekayaan, berkaitan erat dengan
pendapatan. Orang yang memiliki harta benda banyak (kaya) akan lebih dihargai
dan dihormati masyarakat daripada orang yang miskin.
b. Kekuasaan, berkaitan dengan
kemampuan seseorang untuk menentukan kehendaknya terhadap orang lain (yang
dikuasai).
c. Keturunan, kriteria keturunan
terlepas dari ukuran kekayaan atau kekuasaan.
d. Pendidikan (Ilmu Pengetahuan), dalam
masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan atau pendidikan, orang yang
memiliki keahlian atau profesionalis akan mendapatkan penghargaan yang lebih
besar.
7. Beberapa Macam Cara Memperoleh
Status Sosial
Unsur-unsur dalam sitem pelapisan
masyarakat adalah kedudukan (status) dan peranan (role). Kedua unsur ini
merupakan unsur baku dalam sitem pelapisan masyarakat. Kedudukan dan peranan
seseorang atau kelompok memiliki arti penting dalam suatu sitem sosial.
Status atau kedudukan adalah posisi
seseorang dalam suatu kelompok sosial atau kelompok masyarakat. Status
merupakan pencerminan hak dan kewajiban dalam tingkah laku manusia.
Setiap individu akan memperoleh
status melalui beberapa cara.
a.
Ascribed
status, yaitu kedudukan yang diperoleh secara otomatis/tanpa usaha, misalnya
gelar kebangsawanan atau jenis kelamin.
b.
Achieved
status, yaitu kedudukan yang diperoleh seseorang dengan usaha yang disengaja
tergantung dari kemampuan masing-masing dalam mengejar tujuannya, contohnya
gelar yang diperoleh melalui pendidikan.
c.
Assigned
status, merupakan kombinasi dari keduanya, yaitu kedudukan yang diperoleh
seseorang melalui penghargaan/pemberian dari pihak lain setelah orang tersebut
berjasa atau memperjuangkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan atau kepentingan
masyarakat
B.
Kesamaan
Derajat
Kesamaan derajat itu merupakan sesuatu yang bisa dikatakan atau sesuatu
yang selalu berhubungan dengan status. Kesamaan derajat terkadang dapat membuat
seseorang merasa menjadi lebih berwibawa, dan biasanya orang yang mempunyai
sifat seperti itu rasanya dia ingin selalu disegankan di sekitar atau di
lingkungan tempat tinggalnya. Sifat yang seperti ini sangat tidak baik. Dalam
hidup bertetangga kita jangan sampai mempunya sifat yang seperti itu, karna itu
akan membuat hubungan antar tetengga menjadi tidak harmonis dan itu rasanya
sangat tidak enak dan nyaman. Dalam hidup bertetangga kita harus selalu
tanamkan prinsip bahwa apa yang kita inginkan harus sesuai dengan apa yang kita
rasakan.
Persamaan harkat adalah
persamaan nilai, harga, taraf yang membedakan makhluk yang satu dengan makhluk
yang lain. Harkat manusia adalah nilai manusia sebagai makhluk Tuhan yang
dibekali cipta, rasa, karsa dan hak-hak serta kewajiban azasi manusia. Martabat
adalah tingkatan harkat kemanusiaan dan kedudukan yang terhormat. Sedangkan
derajat kemanusiaan adalah tingkatan, martabat dan kedudukan manusia sebagai
makhluk Tuhan yang memiliki kemampuan kodrat, hak dan kewajiban azasi.
Dengan adanya persamaan
harkat, derajat dan martabat manusia, setiap orang harus mengakui serta
menghormati akan adanya hak-hak, derajat dan martabat manusia. Sikap ini harus
ditumbuhkan dan dipelihara dalam hubungan kemanusiaan, baik dalam lingkungan
keluarga, lembaga pendidikan maupun di lingkungan pergaulan masyarakat. Manusia
dikarunian potensi berpikir, rasa dan cipta, kodrat yang sama sebagai makhluk
pribadi (individu) dan sebagai makhluk masyarakat (sosial).
Manusia akan mempunyai
arti apabila ia hidup bersama-sama manusia lainnya di dalam masyarakat.
C.
Elite dan Massa
Pengertian elite secara umum, menunjukkan sekelompok orang yang dalam
masyarakat menempati kedudukan tinggi. Sedangkan dalam arti lebih khusus yaitu
sekelompok orang-orang terkemuka dibidang-bidang tertentu dan khususnya
golongan kecil yang memegang kekuasaan. Dalam cara pemakaiannya yang lebih umum
elite dimaksudkan posisi dalam masyarakat di puncak struktur-struktur sosial
yang terpenting, yaitu posisi tinggi dalam ekonomi, pemerintahan aparat
kemiliteran, politik, agama, pengajaran dan pekerjaan-pekerjaan dinas.
Fungsi elite dalam memegang strategi, ada
2 kecenderungan yang digunakan untuk menentukan elite dalam masyarakat yaitu,
menitik beratkan pada fungsi sosial, dan pertimbangan-pertimbangan yang
bersifat moral, kecenderungan penilaian ini melahirkan 2 macam elite yaitu
elite internal dan elite eksternal. Elite internal menyangkut integrasi moral
serta solidaritas sosial, sopan santun dan keadaan jiwa. Elite eksternal
meliputi pencapaian tujuan dan adaptasi berhubungan dengan problema-problema
yang memperlihatkan sifat keras masyarakat lain atau masa depan tak tentu.
Elite sebagai pemegang strategi dibedakan menjadi :
1.
Elite politik, elite yang berkuasa
mencapai tujuan. Yang paling berkuasa disebut elite segala elite.
2.
Elite ekonomi, militer, diplomatik dan
cendekiawan
3.
Elite agama, filsuf, pendidik dan pemuka
masyarakat
4.
Elite yang dapat memberikan kebutuhan
psikologis seperti artis, penulis, tokoh film, olahragawan, tokoh hiburan dsb.
Dalam masyarakat tertentu ada sebagian penduduk ikut terlibat dalam
kepemimpinan, sebaliknya dalam masyarakat tertentu penduduk tidak diikut
sertakan. Dalam pengertian umum elite menunjukkan sekelompok orang yang dalam
masyarakat menempati kedudukan tinggi. Dalam arti lebih khusus lagi elite
adalah sekelompok orang terkemuka di bidang-bidang tertentu dan khususnya
golongan kecil yang memegang kekuasaan.
Dalam cara pemakaiannya yang lebih umum elite dimaksudkan : “ posisi di
dalam masyarakat di puncak struktur struktur sosial yang terpenting, yaitu
posisi tinggi di dalam ekonomi, pemerintahan, aparat kemiliteran, politik,
agama, pengajaran, dan pekerjaan-pekerjaan dinas.” Tipe masyarakat dan sifat
kebudayaan sangat menentukan watak elite. Dalam masyarakat industri watak
elitnya berbeda sama sekali dengan elite di dalam masyarakat primitive.
Di dalam suatu pelapisan masyarakat tentu ada sekelompok kecil yang
mempunyai posisi kunci atau mereka yang memiliki pengaruh yang besar dalam
mengambil berbagai kebijaksanaan. Mereka itu mungkin para pejabat tugas, ulama,
guru, petani kaya, pedagang kaya, pensiunan dan lainnya lagi. Para pemuka
pendapat (opinion leader) inilah pada umumnya memegang strategi kunci dan
memiliki status tersendiri yang akhirnya merupakan elite masyarakatnya.
Ada dua kecenderungan untuk menetukan elite didalam masyarakat yaitu :
pertama menitik beratakan pada fungsi sosial dan yang kedua,
pertimbangan-pertimbangan yang bersifat moral. Kedua kecenderungan ini
melahirkan dua macam elite yaitu elite internal dan elite eksternal, elite
internal menyangkut integrasi moral serta solidaritas sosial yang berhubungan
dengan perasaan tertentu pada saat tertentu, sopan santun dan keadaan jiwa.
Sedangkan elite eksternal adalah meliputi pencapaian tujuan dan adaptasi
berhubungan dengan problem-problem yang memperlihatkan sifat yang keras
masyarakat lain atau masa depan yang tak tentu.
Istilah massa dipergunakan untuk menunjukkan suatu pengelompokkan
kolektif lain yang elementer dan spontan, yang dalam beberapa hal menyerupai
crowd, tetapi yang secara fundamental berbeda dengannya dalam hal-hal yang
lain. Massa diwakili oleh orang-orang yang berperan serta dalam perilaku misal
seperti mereka yang terbangkitkan minatnya oleh beberapa peristiwa nasional,
mereka yang menyebar di berbagai tempat, mereka yang tertarik pada suatu
peristiwa pembunuhan sebagai diberitakan dalam pers atau mereka yang berperan
serta dalam suatu migrasi dalam arti luas.
Massa merupakan gambaran kosong dari
suatu masyarakat atau perekutuan. Ia tidak mempunyai organisasi sosial, lembaga
kebiasaan dan tradisi, tidak mempunyai aturan aturandan ritual, tidak terdapat
sentimen kelompok yang terorganisir, tidak ada struktur status peranan dan
tidak memiliki kepemimpinan yang mantap.
Bentuk perilaku massa terletak pada
garis aktivitas individual dan bukan pada tindakan bersama, aktivitas
individual ini terutama dalam bentuk seleksi yang dibuat dalam respon atas
impuls-impuls atau persamaan tidak menentu / samar-samar yang ditimbulkan oleh
objek massa interest.
Adapun
ciri-ciri massa adalah :
1.
Keanggotaannya berasal dari semua lapisan masyarakat
atau strata sosial, meliputi orang-orang dari berbagai posisi kelas yang
berbeda, dari jabatan kecakapan, tingkat kemakmuran atau kebudayaan yang
berbeda-beda. Orang bisa mengenali mereka sebagai masa misalnya orang-orang
yang sedang mengikuti peradilan tentang pembunuhan misalnya malalui pers.
2.
Massa merupakan kelompok yang anonym, atau lebih tepat,
tersusun dari individu yang anonym.
3.
Sedikit interaksi atau bertukar pengalaman antar
anggota – anggotanya.
Daftar pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/