Bab i
Pendahuluan
Seperti
yang kia ketahui, sejarah yang secara bahasa artinya pohon, dianalogikan
sebagai penentu dahan, rantin, daun,
bunga dan buah yang itu merupakan masa depan. Dalam islam, adalah seseorang
yang mengukir sejarah yang kuat demi kemajuan islam di masa depan. Ia mendobrak
zaman yang penuh kebobrokan moral menuju zaman yang sejahtera.
Dikala
kebanyakan orang hanya mementingkan hawa nafsu mereka sendiri. Memenuhi
kebutuhan dengan cara apapun juga. Tak perduli halal atau haram yang itu telah dijelaskan
dalam kitab-kitab utusan allah pada masa sebelumnya. Penindasan kaum lemah oleh
kaum bangsawan untuk memperkaya diri para bangsawan yang tak kunjung puas atas
apa yang telah mereka miliki. Para pemuka dan bangsawan menjadi tuan dari kaum
selain mereka yang menjadi sapi perahan mereka.
Kehidupan
diatur oleh aturan para bangswan, melalui patung tuli dan tukang tenung yang
dianggap mampu menafsirkan keinginan berhala-berhala yang tak mampu apa-apa.
Tibalah
saatnya seseorang lahir dengan kemuliaan menyertainya. Ia mengemban tanggung
jawab yang sangat berat. Ia menyeimbangkan tatanan hidup yang ta seimbang.
Menerangi kehidupa yang diluputi kegelapan. Dialah Muhammad bin Abdullah bin
Abdul Muthalib (Rasulullah SAW).
Dalam
makalah ini, penulis sajikan sekilas riwayat hidup Rasulullah SAW dari mulai
beliau lahir hingga wafat meninggalkan mu’jizat yang amat besar. Dalam makalah
ini juga sekilas dijelaskan keadaan Makkah sebelum ajaran Rasulullah SAW
tumbuh. Semoga apa yang kami ceritakan dapat menjadi hikmah bagi pembaca. Dan
adapun banyak kesalahan dan kekurangan dari kami dalam mamkalah ini, itu murni
dari kebodohan kami sendiri. Kami mohon maaf sebesar-besarnya. Semoga Allah
mengampuni kami.
Bab ii
Pembahasan
A.
Masa
Sebelum Kerasulan
- Sebelum kelahiran nabi Muhammad SAW.
Sebalum kita membahas arab pada zaman Rasulullah
SAW, sekilas penulis paparkan mengenai keadaan arab, khususnya kota Makkah pra
kelahiran Rasulullah SAW.
Seperti telah kita ketahui sebelumnya, bahwa kota
Makkah pada saat itu merupakan sentra perdagangan terutama di timur tengah.
Perekonomiannya pun sangat pesat. Namun dibalik kemapanan di bidang ekonomi,
moral dari mayoritas penduduknya sangatlah rusak. Oleh karena itu, zaman
tersebut disebut zaman jahiliyah (kebodohan). Seorang bapak membunuh anak
perempuannya, karena anak perempuan dipandang sangat hina pada masa itu. Mereka
dianggap sebagai sumber kesialan bagi keluarganya. Tatanan kehidupan di pegang
penuh oleh para pemuka dari kalangan bangsawan. Sedangkan mereka kaum lemah
hanya menjadi sapi perahan baigi para bangsawan. Utaang piutang kadang dibayar
dengan kemerdekaan diri dan kehormatan anak, istri, bahkan diri sendiri.
Perbudakan dan penjualan orag (budak), perjudian, perzinahan, dll telah serasa
membudaya pada masa tersebut. Tuhan tuhan tuli menguasai kehidupan masyarakat
kecuali para bangsawan yang mengutus tukang tenung sebagai penafsir keinginan
patung tuli yang itu merupakan keinginan para bansawan dalam memperkaya diri.
(Abdurrohman Asy-syarqawi,37-49)
- Kelahiran nabi Muhammad SAW.
Ditengah kemelut tatanan masyarakat yang jauh dari
tuhanny, bobrok dalam akhlaknya, lahirlah seorang utusan allah yaitu Muhammad.
Nabi Muuhammad SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul awal tahun gajah, yang
bertepatan dengan tanggal 20 April 570M. Beliau lahir dari sorang ibu yag
bernama siti aminah binti wahab dan ayahya bernama abdullah bin abdul muthalib.
Dimana kakeknya (abdul muthalib) adalah kepala suku quraisy pada saat itu.
Belia lahir dari keturunan dua orang yang akan dikorbankan (nyawanya). Yang pertama adalah nabi isma’il as yang akan
dikorbankan oleh nabi ibrahim karena peritah allah, yang sampai saat ini
peristiwa tersebut diabadikan dalam iedul adha. Yang kedua yaitu ayahnya
sendiri yang akan dikorbankan dihadapan berhala tuli untuk memenuihi nadzarnya
yang terkabul. Ia bernadzar jika ia memiliki 10 anak laki-laki akan ia
korbankan (sembelih) salah satunya. Dan pengudian tiba abdullah yang terpilih.
Namun orang-orang menghalangi niat tersebut dan melakukan undian antara
abdullah dan beberapa ekor unta. Setiap undian nama abdullah yang keluar
ditambah 10 ekor dalam undian hingga mencapai 100 ekor undian htersebut baru
mengeluarkan hasil selain nama abdullah. Nadzarnya pun mengorbankan abdullah
diganti dengan 100 ekor unta.(RatuSuntiah dan Maslani,2011:29)
Ibnu Sa'ad meriwayatkan bahwa ibunda Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "ketika aku melahirkannya, dari
farajku keluar cahaya yang menerangi istana-istana negeri Syam". Imam
Ahmad, ad-Darimi dan selain keduanya juga meriwayatkan versi yang hampir mirip
dengan riwayat tersebut.
Ada riwayat yang menyebutkan telah terjadi irhashaat
(tanda-tanda awal yang menunjukkan kenabian) ketika milad beliau Shallallahu
'alaihi wasallam, diantaranya; runtuhnya empat belas balkon istana kekaisaran,
padamnya api yang sekian lama disembah oleh kaum Majusi, hancurnya
gereja-gereja disekitar danau Saawah setelah airnya menyusut. Riwayat tersebut
dilansir oleh ath-Thabari, al-Baihaqi dan selain keduanya namun tidak memiliki
sanad yang valid.
Setelah beliau Shallallahu 'alaihi wasallam
dilahirkan, beliau dikirim oleh ibundanya ke rumah kakeknya, 'Abdul Muththalib
dan menginformasikan kepadanya berita gembira perihal cucunya tersebut.
Kakeknya langsung datang dengan sukacita dan memboyong cucunya tersebut masuk
ke Ka'bah; berdoa kepada Allah dan bersyukur kepadaNya. Kemudian memberinya
nama Muhammad padahal nama seperti ini tidak populer ketika itu di kalangan
bangsa Arab, dan pada tujuh hari kelahirannya dia mengkhitan beliau sebagaimana
tradisi yang berlaku di kalangan bangsa Arab.
Wanita pertama yang menyusui beliau Shallallahu
'alaihi wasallam setelah ibundanya adalah Tsuaibah. Wanita ini merupakan budak
wanita Abu Lahab yang saat itu juga tengah menyusui bayinya yang bernama Masruh
. Sebelumnya, dia juga telah menyusui Hamzah bin 'Abdulul Muththalib, kemudian
menyusui Abu Salamah bin 'Abdul Asad al-Makhzumi setelah beliau Shallallahu
'alaihi wasallam. ( Syaikh Shafiyyur-Rahman
Al-Mubarakfury, 06)
- Masa kanak-kanak nabi Muhammad SAW.
a. Beliau
lahira sebagai seorang yatim
Ayah nabi muhammad meninggal pada saat beliau
berusia 3 bulan dalam kandungan dan
ibunya meninggal pada saat beliau berusia 6 tahun di sebuah desa yang bernama
abwa sepulang ziarah ke makam abdullah dan rumah paman-pamannya di madinah.
Setalh itu muhammad tinggal bersama kakeknya selama 2 tahun yang kemudian
kakeknya pun wafat. Tanggung jawab atas muhammad setelah itu dialihkan ke
keluarga salah satu pamannya abu thalib.(RatuSuntiah dan Maslani,2011:31)
b. Muhammad
dalam asuhan Halimah
Tradisi yang berlaku di kalangan bangsa Arab yang
sudah berperadaban adalah mencari para wanita yang dapat menyusui bayi-bayi
mereka sebagai tindakan prefentif terhadap serangan penyakit-penyakit yang
biasa tersebar di alam peradaban. Hal itu mereka lakukan agar tubuh bayi-bayi
mereka tersebut kuat, otot-otot mereka kekar serta menjaga agar lisan Arab
mereka tetap orisinil sebagaimana lisan ibu mereka dan tidak terkontaminasi.
Oleh karena itu, 'Abdul Muththalib mencari wanita-wanita yang dapat menyusui
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam; dia memilih seorang wanita dari
kabilah Bani Sa'ad bin Bakr, yaitu Halimah binti Abu Dzuaib sebagai wanita
penyusu beliau. Suami dari wanita ini bernama al-Harits bin 'Abdul 'Uzza yang
berjuluk Abu Kabsyah, dari kabilah yang sama.
Dengan begitu, di sana Rasulullah Shallallahu
'alaihi wasallam memiliki banyak saudara sesusuan, yaitu; 'Abdullah bin
al-Harits, Anisah binti al-Harits, Hudzafah atau Judzamah binti al-Harits
(dialah yang berjuluk asy-Syaima' yang kemudian lebih populer menjadi namanya
dan yang juga merawat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam) serta Abu Sufyan
bin al-Harits bin 'Abdul Muththalib, saudara sepupu Rasulullah.
Paman beliau Shallallahu 'alaihi wasallam, Hamzah
bin 'Abdul Muththalib juga disusui di tengah kabilah Bani Sa'ad bin Bakr.
Ibunya juga menyusui beliau selama sehari, yaitu ketika beliau berada disisi
ibu susuannya, Halimah. Dengan demikian Hamzah merupakan saudara sesusuan
Rasulullah dari dua sisi: Tsuaibah dan (Halimah) as-Sa'diyyah.
c. Keberkahan
dalam mengasuh calon utusan Allah.
Halimah merasakan adanya keberkahan serta
kisah-kisah yang aneh lainnya sejak kehadiran Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wasallam di tengah keluarganya. Untuk itu, baiklah kita biarkan dia
mengisahkannya sendiri secaradetail:
" Ibnu Ishaq berkata: 'Halimah pernah berkisah: bahwasanya suatu ketika dia pergi keluar bersama suami dan bayinya yang masih kecil dan menyusui. Dia juga membawa serta beberapa wanita yang sama-sama tengah mencari bayi-bayi susuan. Ketika itu sedang dilanda musim paceklik sedangkan kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi, lalu aku pergi dengan mengendarai seekor keledai betina berwarna putih kehijauan milikku beserta seekor onta yang sudah tua. Demi Allah! Tidak pernah hujan turun meski setetespun, kami juga tidak bisa melewati malam dengan tidur pulas lantaran tangis bayi kami yang mengerang kelaparan sedangkan ASI di payudaraku tidak mencukupi. Begitu juga dengan air susu onta tua yang bersama kami tersebut sudah tidak berisi. Akan tetapi kami selalu berharap pertolongan dan jalan keluar. Aku kembali pergi keluar dengan mengendarai onta betina milikku yang sudah tidak kuat lagi untuk meneruskan perjalanan sehingga hal ini membuat rombongan kami gelisah akibat letih dan kondisi kekeringan yang melilit. Akhirnya kami sampai juga ke Mekkah untuk mencari bayi-bayi susuan akan tetapi tidak seorang wanita pun diantara kami ketika disodorkan untuk menyusui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melainkan menolaknya setelah mengetahui kondisi beliau yang yatim. Sebab, tujuan kami (rombongan wanita penyusu bayi), hanya mengharapkan imbalan materi dari orang tua si bayi sedangkan beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bayi yang yatim, lantas apa gerangan yang dapat diberikan oleh ibu dan kakeknya buat kami?. Kami semua tidak menyukainya karena hal itu; akhirnya, semua wanita penyusu yang bersamaku mendapatkan bayi susuan kecuali aku. Tatkala kami semua sepakat akan berangkat pulang, aku berkata kepada suamiku: 'demi Allah! Aku tidak sudi pulang bersama teman-temanku tanpa membawa seorang bayi susuan. Demi Allah! Aku akan pergi ke rumah bayi yatim tersebut dan akan mengambilnya menjadi bayi susuanku. Lalu suamiku berkata: 'tidak ada salahnya bila kamu melakukan hal itu, mudah-mudahan Allah menjadikan kehadirannya di tengah kita suatu keberkahan. Akhirnya aku pergi ke rumah beliau Shallallahu 'alaihi wasallam dan membawanya serta. Sebenarnya, motivasiku membawanya serta hanyalah karena belum mendapatkan bayi susuan yang lain selain beliau. Setelah itu, aku pulang dengan membawanya serta dan mengendarai tungganganku. Ketika dia kubaringkan di pangkuanku dan menyodorkan puting susuku ke mulutnya supaya menetek ASI yang ada seberapa dia suka, diapun meneteknya hingga kenyang, dilanjutkan kemudian oleh saudara sesusuannya (bayiku) hingga kenyang pula. Kemudian keduanya tertidur dengan pulas padahal sebelumnya kami tak bisa memicingkan mata untuk tidur karena tangis bayi kami tersebut. Suamiku mengontrol onta tua milik kami dan ternyata susunya sudah berisi, lalu dia memerasnya untuk diminum. Aku juga ikut minum hingga perut kami kenyang, dan malam itu bagi kami adalah malam tidur yang paling indah yang pernah kami rasakan. Pada pagi harinya, suamiku berkata kepadaku:' demi Allah! Tahukah kamu wahai Halimah?; kamu telah mengambil manusia yang diberkahi'. Aku berkata: 'demi Allah! Aku berharap demikian'. Kemudian kami pergi keluar lagi dan aku menunggangi onta betinaku dan membawa serta beliau Shallallahu 'alaihi wasallam diatasnya. Demi Allah! Onta betinaku tersebut sanggup menempuh perjalanan yang tidak sanggup dilakukan oleh onta-onta mereka, sehingga teman-teman wanitaku dengan penuh keheranan berkata kepadaku:'wahai putri Abu Zuaib! Celaka! Kasihanilah kami bukankah onta ini yang dulu pernah bersamamu?, aku menjawab:'demi Allah! Inilah onta yang dulu itu!'. Mereka berkata:'demi Allah! Sesungguhnya onta ini memiliki keistimewaan'. Kemudian kami mendatangi tempat tinggal kami di perkampungan kabilah Bani Sa'ad. Sepanjang pengetahuanku tidak ada bumi Allah yang lebih tandus darinya; ketika kami datang, kambingku tampak dalam keadaan kenyang dan banyak air susunya sehingga kami dapat memerasnya dan meminumnya padahal orang-orang tidak mendapatkan setetes air susupun walaupun dari kambing yang gemuk. Kejadian ini membuat orang-orang yang hadir dari kaumku berkata kepada para pengembala mereka: celakalah kalian! Pergilah membuntuti kemana saja pengembala kambing putri Abu Zuaib mengembalakannya. Meskipun demikian, realitasnya, kambing-kambing mereka tetap kelaparan dan tidak mengeluarkan air susu setetespun sedangkan kambingku selalu kenyang dan banyak air susunya. Demikianlah, kami selalu mendapatkan tambahan nikmat dan kebaikan dari Allah hingga tak terasa dua tahun pun berlalu dan tiba waktuku untuk menyapihnya. Dia tumbuh besar namun tidak seperti kebanyakan anak-anak sebayanya; sebab belum mencapai usia dua tahun dia sudah tumbuh dengan postur yang bongsor. Akhirnya, kami mengunjungi ibunya dan dalam hati yang paling dalam kami sangat berharap dia masih berada di tengah keluarga kami dikarenakan keberkahan yang kami rasakan sejak keberadaannya dan itu semua kami ceritakan kepada ibundanya. Aku berkata kepadanya: 'kiranya anda sudi membiarkan anak ini bersamaku lagi hingga dia besar, sebab aku khawatir dia terserang penyakit menular yang ada di Mekkah'. Kami terus mendesaknya hingga dia bersedia mempercayakannya kepada kami lagi".
" Ibnu Ishaq berkata: 'Halimah pernah berkisah: bahwasanya suatu ketika dia pergi keluar bersama suami dan bayinya yang masih kecil dan menyusui. Dia juga membawa serta beberapa wanita yang sama-sama tengah mencari bayi-bayi susuan. Ketika itu sedang dilanda musim paceklik sedangkan kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi, lalu aku pergi dengan mengendarai seekor keledai betina berwarna putih kehijauan milikku beserta seekor onta yang sudah tua. Demi Allah! Tidak pernah hujan turun meski setetespun, kami juga tidak bisa melewati malam dengan tidur pulas lantaran tangis bayi kami yang mengerang kelaparan sedangkan ASI di payudaraku tidak mencukupi. Begitu juga dengan air susu onta tua yang bersama kami tersebut sudah tidak berisi. Akan tetapi kami selalu berharap pertolongan dan jalan keluar. Aku kembali pergi keluar dengan mengendarai onta betina milikku yang sudah tidak kuat lagi untuk meneruskan perjalanan sehingga hal ini membuat rombongan kami gelisah akibat letih dan kondisi kekeringan yang melilit. Akhirnya kami sampai juga ke Mekkah untuk mencari bayi-bayi susuan akan tetapi tidak seorang wanita pun diantara kami ketika disodorkan untuk menyusui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melainkan menolaknya setelah mengetahui kondisi beliau yang yatim. Sebab, tujuan kami (rombongan wanita penyusu bayi), hanya mengharapkan imbalan materi dari orang tua si bayi sedangkan beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bayi yang yatim, lantas apa gerangan yang dapat diberikan oleh ibu dan kakeknya buat kami?. Kami semua tidak menyukainya karena hal itu; akhirnya, semua wanita penyusu yang bersamaku mendapatkan bayi susuan kecuali aku. Tatkala kami semua sepakat akan berangkat pulang, aku berkata kepada suamiku: 'demi Allah! Aku tidak sudi pulang bersama teman-temanku tanpa membawa seorang bayi susuan. Demi Allah! Aku akan pergi ke rumah bayi yatim tersebut dan akan mengambilnya menjadi bayi susuanku. Lalu suamiku berkata: 'tidak ada salahnya bila kamu melakukan hal itu, mudah-mudahan Allah menjadikan kehadirannya di tengah kita suatu keberkahan. Akhirnya aku pergi ke rumah beliau Shallallahu 'alaihi wasallam dan membawanya serta. Sebenarnya, motivasiku membawanya serta hanyalah karena belum mendapatkan bayi susuan yang lain selain beliau. Setelah itu, aku pulang dengan membawanya serta dan mengendarai tungganganku. Ketika dia kubaringkan di pangkuanku dan menyodorkan puting susuku ke mulutnya supaya menetek ASI yang ada seberapa dia suka, diapun meneteknya hingga kenyang, dilanjutkan kemudian oleh saudara sesusuannya (bayiku) hingga kenyang pula. Kemudian keduanya tertidur dengan pulas padahal sebelumnya kami tak bisa memicingkan mata untuk tidur karena tangis bayi kami tersebut. Suamiku mengontrol onta tua milik kami dan ternyata susunya sudah berisi, lalu dia memerasnya untuk diminum. Aku juga ikut minum hingga perut kami kenyang, dan malam itu bagi kami adalah malam tidur yang paling indah yang pernah kami rasakan. Pada pagi harinya, suamiku berkata kepadaku:' demi Allah! Tahukah kamu wahai Halimah?; kamu telah mengambil manusia yang diberkahi'. Aku berkata: 'demi Allah! Aku berharap demikian'. Kemudian kami pergi keluar lagi dan aku menunggangi onta betinaku dan membawa serta beliau Shallallahu 'alaihi wasallam diatasnya. Demi Allah! Onta betinaku tersebut sanggup menempuh perjalanan yang tidak sanggup dilakukan oleh onta-onta mereka, sehingga teman-teman wanitaku dengan penuh keheranan berkata kepadaku:'wahai putri Abu Zuaib! Celaka! Kasihanilah kami bukankah onta ini yang dulu pernah bersamamu?, aku menjawab:'demi Allah! Inilah onta yang dulu itu!'. Mereka berkata:'demi Allah! Sesungguhnya onta ini memiliki keistimewaan'. Kemudian kami mendatangi tempat tinggal kami di perkampungan kabilah Bani Sa'ad. Sepanjang pengetahuanku tidak ada bumi Allah yang lebih tandus darinya; ketika kami datang, kambingku tampak dalam keadaan kenyang dan banyak air susunya sehingga kami dapat memerasnya dan meminumnya padahal orang-orang tidak mendapatkan setetes air susupun walaupun dari kambing yang gemuk. Kejadian ini membuat orang-orang yang hadir dari kaumku berkata kepada para pengembala mereka: celakalah kalian! Pergilah membuntuti kemana saja pengembala kambing putri Abu Zuaib mengembalakannya. Meskipun demikian, realitasnya, kambing-kambing mereka tetap kelaparan dan tidak mengeluarkan air susu setetespun sedangkan kambingku selalu kenyang dan banyak air susunya. Demikianlah, kami selalu mendapatkan tambahan nikmat dan kebaikan dari Allah hingga tak terasa dua tahun pun berlalu dan tiba waktuku untuk menyapihnya. Dia tumbuh besar namun tidak seperti kebanyakan anak-anak sebayanya; sebab belum mencapai usia dua tahun dia sudah tumbuh dengan postur yang bongsor. Akhirnya, kami mengunjungi ibunya dan dalam hati yang paling dalam kami sangat berharap dia masih berada di tengah keluarga kami dikarenakan keberkahan yang kami rasakan sejak keberadaannya dan itu semua kami ceritakan kepada ibundanya. Aku berkata kepadanya: 'kiranya anda sudi membiarkan anak ini bersamaku lagi hingga dia besar, sebab aku khawatir dia terserang penyakit menular yang ada di Mekkah'. Kami terus mendesaknya hingga dia bersedia mempercayakannya kepada kami lagi".
d. Kejadian
yang membuat halimah cemas.
Begitulah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam
akhirnya tetap tinggal di lingkungan kabilah Bani Sa'ad, hingga terjadinya
peristiwa dibelahnya dada beliau ketika berusia empat atau lima tahun. Imam
Muslim meriwayatkan dari Anas bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wasallam didatangi oleh Jibril 'alaihissalam saat beliau tengah bermain bersama
teman-teman sebayanya. Jibril memegang beliau sehingga membuatnya pingsan lalu
membelah bagian dari hatinya, kemudian mengeluarkannya segumpal darah
bersamanya. Jibril berkata: 'ini adalah bagian syaithan yang ada pada dirimu!
Kemudian meletakkannya di dalam baskom yang terbuat dari emas dan mencucinya
dengan air zam-zam, merapikan dan mengembalikannya ke tempat semula.
Teman-teman sebayanya tersebut berlarian mencari ibu susuannya seraya
berkata:'sesungguhnya Muhammad sudah dibunuh!'. Mereka akhirnya beramai-ramai
menghampirinya dan menemukannya dalam kondisi rona muka yang sudah berubah.
Anas berkata: 'sungguh aku telah melihat bekas jahitan itu di dada beliau
Shallallahu 'alaihi wasallam '.( Syaikh
Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, 06)
Setelah kejadian tersebut, Muhammad pun dikembalikan
kepada ibunya yang pada waktu itu berusia sekitar 5 tahun. Dalam perjalanan
pulangnya Muhammad ke keluarganya, terjadi kejadian yang membuat Halimah
kembali cemas, yaitu di sebuah tempat ramai sebelum memasuki dataran tinggi
makkah,tiba-tiba muhammad menghilang dan Halimah tidak menemukannya lagi. Hal
itu disampaikan kepada keluarganya. Tapi, beberapa saat kemudian Muhammad
datang dengan seorang pemuda yang bernama Waraqah. Kakeknya kegirangan dan
memeluk muhammad serta melakukan tawaf untuk muhammad. (Abdurrohman
Asy-syarqawi, 60-61)
e. Muhammad
dalam asuhan ibu dan kakeknya.
Setelah 1 tahun Muhammad bersama ibunya (Amunah),
Aminah memandang perlu untuk menziarahi kuburan suaminya di Yatsrib sebagai
bentuk kesetiaannya terhadapnya. Akhirnya, dia keluar dari Mekkah dengan
menempuh perjalanan yang mencapai 500 km bersama anaknya yang masih yatim,
Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, pembantunya, Ummu Aiman dan mertuanya,
'Abdul Muththalib. Setelah menginap selama sebulan disana, dia kembali pulang ke
Mekkah akan tetapi di tengah perjalanan dia diserang sakit keras sehingga
akhirnya meninggal dunia di al-Abwa' , suatu tempat yang terletak antara Mekkah
dan Madinah.
Muhammad kemudian diasuh oleh kakeknya. Namun 2
tahun bersama kakeknya. Kakeknya jatuh sakit dan wafat. Muhammad pun diserahkan
kepada salah satu pamannya, Abu Thalib.
- Diketahuinya muhammad calon rasul allah.
Dalam asuhan pamanya, pada saat muhammad berusia 12
tahun beliau ikut berdagang bersama pamannya ke syam (syiria). Dalam perjalanan
mereka bertemu pendeta nasrani bernama bukhaira dari bashira (sebelah selatan
syiria). Pendeta tersebut melihat tanda-tanda kenabian muhammad yang tertulis
dalam injil.(RatuSuntiah dan Maslani,2011:31)
- Masa remaja nabi Muhammad SAW.
Pada usia 14 tahun beliau ikut serta dalam perang
fijar ke 5, antara suku quraisy dan kinanah di satu pihak dan suku hawazin di
pihak lain. Beliau bertugas memberi anak panah kepada
paman-pamannya.(RatuSuntiah dan Maslani,2011:31)
Pada usia sekitar 19 tahun muhammad yang saat itu bermata
pencaharian menggembalakan ternak. Memandang ia harus mencari pekerjaan lain.
Muhammad pun memutuskan untuk berdagang. Ia di bantu pamannya untuk mulai
berdagang, dimana barang dagangan yang ia bawa dari salah satu janda kaya
(khadijah) yang akhirnya khadijah tertarik untuk mempersunting Muhammad karena
kemuliaan budi pekertinya.
- Pernikahan nabi Muhammad dengan Siti Khadijah.
Pada usia 25 tahun nabi Muhammad menikah dengan siti
khadijah yang berusia 40 tahun. Pernikahan tersebut melahirkan 6 anak yaitu
fatiah, ummi kulsum, jainab, ruqayah, qosim dan abdullah.(RatuSuntiah dan
Maslani,2011:31)
Saat itu Khadijah
binti Khuwailid berusia 40 tahun -15 tahun lebih tua dibanding Muhammad. Ia
pengusaha ternama di Mekah. Bisnisnya menjangkau wilayah Syria -daerah yang
menjadi persimpangan antara "Jalur Sutera" Cina-Eropa dengan jalur
Syria-Yaman. Ia cantik, lembut namun sangat disegani masyarakatnya. Orang-orang
Mekah menjulukinya sebagai "Ath-Thahirah" (seorang suci) dan
"Sayyidatul Quraish" (putri terhormat Quraish)." Khadijah dan
Muhammad sama-sama keturunan Qushay.
Khadijah lalu
menyampaikan keinginan menikah tersebut pada Muhammad, melalui Nufaisa
-sahabatnya. Muhammad sempat gamang. Ia tidak punya apa-apa untuk menikah.
Namun kedua belah pihak keluarga mendukung mereka. Dengan mas kawin 20 unta,
Muhammad menikahi Khadijah. Paman Khadijah, Umar bin Asad menjadi wali lantaran
Khuwailid telah meninggal sebelum Perang Fijar. Muhammad kemudian tinggal di
rumah Khadijah.
Keluarga mereka
tenteram dan damai. Pada usianya yang terbilang tua, Khadijah masih melahirkan
enam anak. Dua anak pertama, Qasim dan Abdullah meninggal selagi kecil. Empat
putri mereka tumbuh hingga dewasa. Zainab yang sulung dinikahkan dengan
keponakan Khadijah, Abul'Ash bin Rabi'. Ruqaya dan Ummi Khulthum dinikahkan
dengan kakak-adik putra Abu Lahab, paman Muhammad, yakni Uthba' dan Uthaiba.
Setelah ajaran Islam turun, Abu Lahab meminta anak-anaknya menceraikan
anak-anak Muhammad. Kelak mereka menikah dengan Khalifah Usman bin Affan,
mula-mula Ruqaya yang kemudian wafat, lalu Ummi Khulthum. Si bungsu Fatimah
masih kecil. Setelah masa Islam, Fatimah dinikahkan dengan Ali.
Perhatian pasangan
Muhammad dan Khadijah
bukan hanya memikirkan keluarganya sendiri, melainkan juga orang lain. Setiap
musim paceklik tiba, Halimah -Ibu susu Muhammad-selalu datang minta bantuan.
Mereka akan membekali pulang Halimah dengan air serta bahan pangan yang
diangkut unta untuk memenuhi kebutuhan warga desanya. Mereka juga menolong Abu
Thalib dari kemiskinannya. Untuk itu, Muhammad menemui pamannya yang kaya Abbas
untuk mengambil salah seorang anak Abu Thalib, Ja'far, sedangkan keluarga
Muhammad mengasuh anak yang lain, Ali.
- Peristiwa hajarul aswad.
Dikala usia beliau 30 tahun, pada saat itu suku
quraisy sedang melakukan renovasi ka’bah. Saat mencapai tahap akhir, yaitu
peletkan batu hitam (hajar aswad) terjadi perselisihan antar suku, siapa yang
berhak meletakan batu tersebut. Mereka pun menyepakati untuk menyerahkan
persoalan ersebut kepada yang datang lebih dahulu ke tempat tersebut dini hari
berikutnya. Dan ternyata muhammad lah orang tersebut. Mereka berkata “ inilah al-amin kami setuju dia yang
menyelseaikan persoalan ini.(RatuSuntiah dan Maslani,2011:32)
Saat tiba peletakan batu hitam terjadi perseteruan siapa yang berhak
melakukannya. Akhirnya, seorang
tertua dan dihormati di antara mereka, Abu Ummayah bin Mughira dari Bani
Makhzum, mengajukan usul. Urusan penempatan Hajar Aswad agar diserahkan pada
orang pertama yang masuk ke pintu Shafa. Siapapun dia. Orang itu ternyata
Muhammad Al-Amien.
Secara bijaksana,
Muhammad melibatkan semua keluarga untuk meletakkan batu hitam itu. Caranya: ia
membentangkan kain. Semua pemimpin keluarga dipersilakannya memegang pinggir
kain. Muhammad mengangkat batu itu ke atas kain, lalu semua secara bersama-sama
mengotong batu tersebut, kemudian Muhammad kembali mengangkat dan meletakkannya
pada tempat semestinya.
B.
Masa
Setelah kerasulan
- Kenabian dan kerasulan Rasulullah SAW.
Pada usia rasulullah SAW 40 tahun, beliau menerima
wahyu pertama pada tanggal 17 ramadhan/ 6 agustus 611M. Pada malam itu beliau
sedang berada di gua hira’, datanglah malaikat jibril meyampaikan wahyu pertama
yaitu QS al-‘alaq:1-5. Karena peristiwa tersebut beliau bergegas pulang, dan
menceritakan semua kejadian tersebut kepada khadijah. Setelah itu mereka berdua
pergi ke waraqah bin naufal (ahli taurat dan injil pada sat itu). Waraqah
menyatakan bahwa muhammad telah dipilih allah sebagai nabi.(RatuSuntiah dan
Maslani,2011:33)
Setelah menerima wahyu pertama, nabi Muhammad SAW
yang selalu datang ke gua hira’ dan menanti jibril muncul lagi, turunlah wahyu
kedua yang merupakan perintah untuk menyebarkan ajaran islam yaitu QS
Al-Muddatsie ayat 1-7. Dilanjutkan dengan perintah dakwah kepada kerabat dekat
(QS As-Syu’ara ayat 214).kemudian diperintah untuk berdakwah kepada
manusiasecara umum (Al-Hijr ayat 94). Setelah itu mulailah beliau berdakwah
secara terang-terangan kepada kaum quraisy. (RatuSuntiah dan Maslani,2011:33)
- Permulaan dakwah Rasulullah SAW dan dakwah periode Makkah.
Pada awal dakwah beliau khadijah merupakan orang
sekaligus perempuan pertama yang masuk islam. Kemudian rasulullah
menyampaikan kejadian aneh yang
dialaminya saat di gua hira dan meyampaikan risalah yang diamanatkan Allah SWT
kepadanya kepada sahabat karibnya yaitu abu bakar. Abu bakar pun menyambut baik
ajaran tersebut tanpa sedikitpun penolakan, karena ia dan orang pada umumnya tau rasulullah SAW
adalah seorang yang terpercaya. Dari abu bakar mulai ajaran islam menyebar ke
kalangan bangsawan. Setelah abu bakar masuk islam, beliau mengajak orang-orang
di kalangan bangsawan seperti utsman bin affan untuk mengikuti ajaran yang
dibawarasulullah (islam). Utsman pun masuk islam melalui ajakan abu bakar. Dari
kalangan keluarga rasul, seorang anak angkat rasul bernama zaid bin harits
kemudian masuk islam, setelah menerima kabar tersebut. rasulullah mengajak sanak kerabatnya masuk
islam dan menyampaikan kebenaran yang islam bawa. Namun beragam penolakan yang
Rasulullah terima. Adapula yang menerima ajaran tersebut. Dan pada permulaan
dakwah ada yang di sebut dengan Assabiqunal
Awwalum (orang-orang yang pertama masuk islam) diantaranya: Kadijah, abu
bakar, ustman bin affan, zaid bin harits, ali bin abi thalib, dll. Menurut para
ahli sejarah jumlahnya mencapai 40 orang.
Rasululah SAW berdakwah periode makkah selama
kira-kira 13 tahun sebelum akhirnya rasulullah
hijrah ke yatsrib. Pada periode
ini turun beberapa wahyu yang dalam mushaf dikenal dengan surat amkkiyah. Pada
periode ini terjadi beberapa peristiwa seperti turunnya QS al-lahab akibat
kecongkakkanabu lahab, isra’ mi’raj dan pemberian gelar Asy-syidiq kepada abu
bakar,hijrah kehabsyi dan thaif, wafatnta paman dan istri Rasulullah SAW, dan
banyak lagi perstiwa penting yang penulis tidak dapat menjelaskannya secara
rinci dalam makalah ini.
- Awal tahun hijriyah dan periode madinah.
Suatu ketika, perintah Allah untuk hijrah pun turun.
Muhammad memberi tahu Abu Bakar. Para pemuda Qurais juga semakin ketat
memata-matai rumah Muhammad. Mereka sesekali mengintip ke dalam rumah, melihat
Muhammad berbaring di tempat tidurnya. Namun Muhammad meminta Ali mengenakan
mantel hijaunya dari Hadramaut serta tidur di dipannya. Kaum Qurais tenang.
Mereka pikir Muhammad masih tidur. Ketika esok harinya mendobrak pintu rumah Rasul,
mereka hanya mendapati Ali yang mengaku tak tahu menahu tentang keberadaan
Muhammad.
Malam itu, Muhammad
telah menyelinap dari jalan belakang. Bersama Abu Bakar, ia berjalan mengendap
dalam gelap, menuju sebuah gua di bukit Tsur. Sebuah pilihan cerdik. Kaum
Qurais tentu menduga Muhammad menuju Yatsrib di utara Mekah. Muhammad malah
melangkah ke selatan.
Dalam
persembunyiannya, mereka tetap memasang telinga melalui Abdullah, anak Abu
Bakar, yang tetap tinggal di Mekah. Setiap malam, Abdullah menemui mereka di
gua melaporkan perkembangan suasana serta mengirim makanan yang disiapkan
Aisyah dan saudaranya, Asma. Setiap pagi, pembantu Abu Bakar -Amir bin
Fuhaira-menggembala kambing menghapus jejak itu.
Tiga malam mereka
bersembunyi di gua itu. Satu riwayat menyebut sejumlah pemuda Qurais telah
mencapai bibir gua. Abu Bakar gemetar meringkuk di sisi Muhammad. Saat itu,
Muhammad berbisik. "La tahzan, innallaaha ma'ana (Jangan sedih, Allah
bersama kita) ". Rasul juga menghibur dengan kata-kata, "Abu Bakar, kalau
kau menduga kita hanya berdua, Allah-lah yang ketiga." Orang-orang Qurais
itu lalu pergi. Konon mereka melihat sarang laba-laba serta burung merpati
mengerami telur di mulut gua. Tak mungkin Muhammad bersembunyi di situ.
Setelah aman,
Abdullah bin Uraiqiz membawa keluar mereka. Tiga unta beriringan ke Barat,
berbekal makanan yang diikat dengan sobekan sabuk Asma. Abu Bakar disebut
membawa seluruh uang simpanannya sebesar 5 ribu dirham. Mereka berjalan
berputar menuju arah Tihama, dekat Laut Merah, melalui jalur yang paling jarang
dilalui manusia. Baru kemudian mereka berbelok ke utara, ke Yatsrib, menapaki
terik gurun. Siang-malam mereka terus berjalan.
Dalam perjalanan, seperti banyak orang ceritakan ada utusan sayembara kafir quraisy
yang di kirim untuk membunuh Muhammad yaitu salah satunya soraqah. Namun
penulis tidak menceritakannya karena segala keterbatasan. Dua pekan kemudian,
Muhammad tiba di Quba -desa perkebunan kurma di luar kota Yatsrib. Ia tinggal
di sana selama empat hari dan membangun masjid sederhana. Di sana pula Muhammad
bertemu kembali dengan Ali yang berjalan kaki ke Yatsrib. Mereka kemudian
berjalan bersama menuju kota, dan disambut sangat meriah oleh warga Yatsrib
dengan bacaan salawat.
Orang-orang
berebut menawarkan rumahnya sebagai tempat tinggal Rasul. Tapi Muhammad
menyebut bahwa ia akan tinggal di mana untanya berhenti sendiri. Sampai ke
sebuah tempat penjemuran korma, unta itu berlutut. Muhammad menanyatakn tempat
itu milik siapa. Ma'adh bin Afra menjawab, rumah itu milik Sahal dan Suhail
-dua orang yatim dari Banu Najjar. Setelah dibeli, rumah itu pun dibangun
menjadi masjid.
Pada usia
53 tahun -setelah 13 tahun masa kerasulannya serta membangun pondasi
keislaman-Muhammad membuat langkah besar itu: hijrah. Langkah berbahaya namun
mengantarkannya menjadi pemimpin utuh. Pemimpin keagamaan, kemasyarakatan juga
politik. Peristiwa pada tahun 623 Masehi itu sekaligus mengajarkan keharusan
umat Islam untuk berani menempuh langkah besar untuk mencari lingkungan atau
lahan baru yang memungkinkan benih kebenaran dan kebajikan tumbuh lebih subur.
Periode madinah berlangsung selama 10 tahun, hingga beliau wafat
padausia sekitar 63 tahun. Islam lebih berkembang di sini daripada di makkah.
Pada periode ini rasulullah berperan sebagai pemimpin agama juga sekaligus
kepala pemerintahan. Peran sebagai kepala pemerintahan diawali saat beliau
diangkat sebagai hakim oleh warga madinah setelah bai’atul aqobah II di makkah.
(RatuSuntiah dan Maslani,2011:40)
Dalam membangun masyarakat islam di madinah, dilakukan
langkah-langkah seperti (1) mengubah nama yatsrib manjadi madinah, (2)
mendirikan mesjid sebagai sarana ibadah dll, (3) membentuk hubungan
persaudaraan antara kaum muhajirin dengan kaum anshar, (4) membangun
persaudaraan dengan pihak lain yang bukan islam (5) pembentuk pasukan militer.
(RatuSuntiah dan Maslani,2011:41)
Setelah 2 tahun beliau berada di madinah, beliau
berada di madinah, beliau mengmandangkan piagam madinah. Piagam tersebut yang
dianggap pakar sejarah sebagai konstitusi islam. Dan piagan tersebut yang
merupakan awal mula lahir masyarakat madani. Setelah adanya piagam tersebut,
nabi merupakan pendiri Negara islam pertama. (RatuSuntiah
dan Maslani,2011:41)
- Beberapa peristiwa penting dan pertempuran yang dialami Rasulullah SAW dan kaum muslimin.
a. Perang
badar.
Perang Badar terjadi pada 7 Ramadhan, dua tahun
setelah hijrah. Ini adalah peperangan pertama yang mana kaum Muslim (Muslimin)
mendapat kemenangan terhadap kaum Kafir
Muslimin keluar dengan 300 lebih tentara tidak ada
niat untuk menghadapi khafilah dagang yang hanya terdiri dari 40 lelaki, tidak
berniat untuk menyerang tetapi hanya untuk menunjuk kekuatan terhadap mereka.
Kaum Quraish maju dengan pasukan besar yang terdiri
dari 1000 lelaki, 600 pakaian perang, 100 ekor kuda, dan 700 ekor unta, dan
persediaan makanan mewah yang cukup untuk beberapa hari.
Pertempuran dimuali pada pagi hari tahun kedua
hujriyah. Rasulullah mengambil seganggam krikil dan melemparakannya ke arah
kaum musyrik seraya berkata, “Hancurlah wajah-wajah mereka!” sehingga menimpa
mata semua pasukan Quraisy. Allah pun mendukung kaum mukmin dengan bala bantuan
berupa Malaikat. Akhirnya, kemenangan besar diraih kaum muslimin. Ada 70
musyrikin yang terbunuh dan 70 orang yang tertawan, sedangkan ada 14 orang dari
kaum mukminin yang mengapai syahid.
b. Perang
uhud.
Dalam peperangan tersebut, kaum Muslimin menderita
kekalahan dengan gugurnya 70 orang syuhada (64 orang kaum Anshar dan 6 orang
dari kaum Muhajirin) serta yang menderita luka-luka di perkirakan 150 orang termasuk
Rasulullah Saw sendiri, sementara dari kafir Quraisy yang tewas 22 orang. Dalam
perang Uhud terjadi lima kali serangan balik yang dilakukan Muslimin maupun
kafir Quraisy, antara lain :
Di lembah Qanaah, tempat basis pertahanan kaum kafir
Quraisy. Di sini kaum Muslimin mendapat kemenangan. Di kaki bukit Ar Rumah,
Hamzah bin Abdul Muthallib paman Nabi Muhammad Saw gugur karena ditombak oleh
budak dari Jubair bin Muth’am Al-Quraisy yang bernama Wahsyi (yang kemudian
hari dia masuk Islam) sebagian anak buah Abdullah bin Jubair Al Anshari itu
sebanyak 40 orang turun dari bukit tersebut.
Para pemanah ikut berperang, sehingga pasukan
pemanah tinggal 10 orang. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Khalid bin
Walid yang kemudian menyerang dan menduduki bukit tersebut. Setelah bukit ini
dikuasai oleh pasukan Khalid bin Walid, kaum muslimin mulai terdesak dan terus
menjadi sasaran anak panah pasukan kafir Quraisy.
Di lereng bukit dan jalan menuju Jabal Uhud kaum
Muslimin terus dipukul mundur oleh pasukan Quraisy. Kaum Muslimin terpencar
ketiga arah yaitu sebelah Timur, Barat dan Utara untuk mengatur strategi
serangan balik.
Kaum kafir Quraisy yang mengetahui tempat basis
pertahanan dan persembunyian kaum Muslimin kemudian menyerang ke tiga tempat
tersebut di dataran tinggi gunung Uhud
c. Perang
khandak.
Perang Khandaq ini terjadi karena
hasutan kaum Yahudi. Sekelompok orang Yahudi Bani Nadhir disertai beberapa
orang dari kabilah Arab Bani Wail pergi ke Makkah menemui orang-orang musyrikin
Quraisy. Mereka menghasut pemimpin-pemimpin Quraisy supaya memerangi Rasulullah
saw di Madinah. Setelah menghasut kaum musyrikin Quraisy, mereka lalu
mendatangi kabilah Gathafan. Selain itu, mereka juga giat mendatangi
kabilah-kabilah Arab di sekitar Makkah dengan maksud yang sama.Kaum musyrikin
Quraisy dan Yahudi menyepakati pasukan yang akan dikirim ke Madinah sebanyak 10
ribu orang dengan perincian 4.000 orang tentara Quraisy, 6.000 orang kabilah
Gathafan, sedangkan kaum yahudi akan menyerahkan hasil perkebunan kurma di
Khaibar selama satu tahun pada kabilah Gathafan. Pihak musyrikin ini dipimpin
oleh Abu Sufyan bin Harb, seorang tokoh Quraisy yang terkenal paling gigih
memusuhi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin.
Mengetahui jumlah pasukan musyrikin
yang besar itu, muncul perasaan khawatir dalam diri umat Islam. Rasulullah saw
selaku panglima tertinggi mengadakan musyawarah dengan pasukannya dan mengatur
strategi yang tepat dalam menghadapi pasukan Quraisy tersebut.
Dalam musyawarah Salman Al Farisy
berpendapat supaya menghadang tentara kafir dengan cara membuat parit yang
besar disekeliling Kota Madinah yang terbuka.
Cara pertahanan sedemikian itu merupakan cara
yang biasa dipakai oleh bangsa Parsi . Beliau berkata: ”Wahai Rasulullah..
dahulu ketika kami di Parsi jika takut akan serbuan tentera kuda maka kami akan
menggali parit disekitar kami.”
Dengan adanya parit ini, kedua
pasukan hanya bisa saling memanah. Dengan peperangan model ini, dari kubu kaum
Muslimin menjadi syuhada sebanyak enam orang, sedangkan dari pasukan Quraisy
sebanyak 12 orang. Dalam peristiwa ini, sempat terjadi duel satu lawan satu
antara Ali bin Abi Thalib dengan Amr bin Abdu Wudd dan Ali berhasil
membunuhnya.
d.
Perjanjian hudaibiyah.
Perjanjian Hudaibiyyah adalah sebuah perjanjian yang di adakan di
sebuah tempat di antara Madinah dan Mekkah pada bulan Maret 628
M (Dzulqaidah, 6 H)
Pada tahun
628 M, sekitar 1400 Muslim berangkat ke Mekkah untuk
melaksanakan ibadah haji. Mereka mempersiapkan hewan kurban untuk dipersembahkan
kepada kaum Quraisy. Quraisy, walaupun begitu, menyiagakan pasukannya untuk
menahan Muslim agar tidak masuk ke Mekkah. Pada waktu ini, bangsa Arab
benar benar bersiaga terhadap kekuatan militer Islam yang sedang berkembang. Nabi Muhammad
mencoba agar tidak terjadi pertumpahan darah di Mekkah, karena Mekkah adalah
tempat suci.
Akhirnya
kaum Muslim
menyetujui langkah Nabi Muhammad, bahwa jalur diplomasi
lebih baik daripada berperang. Kejadian ini dituliskan pada surah Al-Fath
ayat 4
Isi dari
perjanjian ringkasnya :
1. Nabi
Muhammad meng-iyakan namanya didasari dengan nasab, bukan dengan status Rasul
Allah.
2. Basmalah
sebagai sebuah etika risalah beliau juga ditolak oleh utusan Quraisy, dan
Rasulullah mengalah.
3. Disepakati
gencatan senjata, tidak boleh saling menyerang antara kedua belah pihak selama
10 tahun
4. Pihak
Rasulullah harus kembali ke Madinah alias tidak boleh melaksanakan Umrah, tapi
boleh umrah tahun depan.
5. Bila ada
pihak Quraisy yang menyeberang ke madinah (masuk Islam) tanpa persetujuan
walinya , maka ia harus dikembalikan kepada Quraisy.
6. Sebaliknya
bila ada pihak Muhammad dari madinah yang menyeberang ke pihak Quraisy maka
tidak akan di kembalikan ke madinah
7. Tidak lupa
kisah yang sangat dramatis dari Abu Jandal, orang pertama yang harus
dikembalikan, saat itu pula harus dikembalikan ke pihak Quraisy.
e. perang
khaibar.
Pada bulan Muharram tahun ketujuh Hijriah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama 1400 sahabat yang ikut di Hudaibiyah
berangkat menuju Khaibar. Telah kita ketahui bahwa sepulang mereka dari
Hudaibiyah Allah menurunkan ayat sebagai janji kemenangan dari-Nya dan perintah
untuk memerangi Yahudi di Khaibar dalam firman-Nya yang tercantum dalam QS.
Al-Fath: 20.
Pada pagi hari itu para sahabat bergegas untuk
berkumpul di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masing-masing
berharap akan diserahi bendera komando. Namun, Rasulullah SAW menyerahkan
bendera perang kepada Ali bin Abi thalib
dan berwasiat kepadanya, “Ajaklah mereka kepada Islam sebelum engkau memerangi
mereka. Sebab, demi Allah, seandainya Allah memberi hidayah seorang di antara
mereka lewat tanganmu maka sungguh itu lebih baik bagimu dari pada onta merah
(harta bangsa Arab yang paling mewah ketika itu).” (Muslim).
Tatkala berlangsung pengepungan benteng-benteng
Yahudi, tiba-tiba pahlawan andalan mereka bernama Marhab menantang dan mengajak
sahabat untuk perang tanding. Amir bin Akwa radhiallahu ‘anhu melawannya dan
beliau terbunuh mati syahid. Lalu Ali radhiallahu ‘anhu melawannya hingga
membunuhnya dan menyebabkan runtuhnya mental kaum Yahudi dan sebagai sebab
kekalahan mereka.
f. Perang
mu’tah.
Perang inin terjadi pada tanggal 5 Jumadil Awal
tahun 8 H atau tahun 629 M.Penyebab perang Mu’tah ini bermula ketika Rasulullah
Shallallâhu ‘alaihi wasallam mengirim utusan bernama al-Harits bin Umair
al-‘Azdi yang akan dikirim ke penguasa Bashra. Di tengah perjalanan, utusan itu
ditangkap Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani dari bani Gasshaniyah (daerah jajahan
romawi) dan dibawa ke hadapan kaisar Romawi Heraclius. Setelah itu kepalanya
dipenggal. Pelecehan dan pembunuhan utusan negara termasuk menyalahi aturan
politik dunia. Membunuh utusan sama saja ajakan untuk berperang. Hal inilah
yang membuat beliau marah.
Pada perang ini, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi
wasallam berkata “Pasukan ini dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, bila ia gugur
komando dipegang oleh Jakfar bin Abu Thalib, bila gugur pula panji diambil oleh
Abdullah bin Rawahah –saat itu beliau meneteskan air mata- selanjutnya bendera
itu dipegang oleh seorang ‘pedang Allah’ dan Akhirnya Allah Subhânahu wata‘âlâ
memberikan kemenangan. (HR. al-Bukhari)
saat terjadilah perang di daerah Mu’tah (sekitar
Yordania sekarang). Perang dimulai. Komandan pasukan, Zaid bin Haritsah
bertempur heroik, membabat pedangnya kesana kemari, menghabisi pasukan Romawi.
Perlawanannya harus terhenti setelah ia tersungkur dari kudanya karena kudanya
berhasil di ditombak. Zaid gugur setelah ditebas pedang lawan.
Lalu komandan perang dipegang Jakfar bin Abu Thalib. Jakfar bertempur dengan gagah berani sambil memegang bendera pasukan. Tiba-tiba tangan kirinya putus tertebas pedang musuh. Lalu bendera dipegang tangan kanannya. Namun tangan kanannya pun ditebas. Dalam kondisi demikian, semangat beliau tidak surut, ia tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar Radhiyallâhu ‘anhu, salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidak kurang 90 luka di bagian tubuh depan beliau akibat tusukan pedang dan anak panah.
Lalu komandan perang dipegang Jakfar bin Abu Thalib. Jakfar bertempur dengan gagah berani sambil memegang bendera pasukan. Tiba-tiba tangan kirinya putus tertebas pedang musuh. Lalu bendera dipegang tangan kanannya. Namun tangan kanannya pun ditebas. Dalam kondisi demikian, semangat beliau tidak surut, ia tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar Radhiyallâhu ‘anhu, salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidak kurang 90 luka di bagian tubuh depan beliau akibat tusukan pedang dan anak panah.
Selanjutnya komando pasukan diambil alih oleh
Abdullah bin Rawahah. Namun nasibnya pun sama, gugur sebagai syuhada. Tsabit
bin Arqam Radhiyallâhu ‘anhu mengambil bendera yang tidak bertuan itu dan
berteriak memanggil para Sahabat Nabi agar menentukan pengganti yang memimpin
kaum muslimin. Maka, pilihan mereka jatuh pada Khalid bin Walid Radhiyallâhu
‘anhu yang terkenal sebagai seorang yang punya strategi perang yang handal. Ini
adalah peperangan pertamanya, karena belum lama dia masuk Islam.
Khalid bin Walid Radhiyallâhu ‘anhu sangat sadar, tidaklah mungkin menandingi pasukan sebesar pasukan Romawi tanpa siasat yang jitu. Ia lalu mengatur strategi, ditebarkan rasa takut ke diri musuh dengan selalu formasi pasukan setiap hari. Pasukan di barisan depan ditukar dibelakang, dan yang dibelakang berada didepan. Pasukan sayap kanan berganti posisi ke kiri begitupun sebaliknya. Tujuannya adalah agar pasukan romawi mengira pasukan muslimin mendapat bantuan tambahan pasukan baru.
Khalid bin Walid Radhiyallâhu ‘anhu sangat sadar, tidaklah mungkin menandingi pasukan sebesar pasukan Romawi tanpa siasat yang jitu. Ia lalu mengatur strategi, ditebarkan rasa takut ke diri musuh dengan selalu formasi pasukan setiap hari. Pasukan di barisan depan ditukar dibelakang, dan yang dibelakang berada didepan. Pasukan sayap kanan berganti posisi ke kiri begitupun sebaliknya. Tujuannya adalah agar pasukan romawi mengira pasukan muslimin mendapat bantuan tambahan pasukan baru.
Khalid bin Walid memerintahkan beberapa kelompok
prajurit kaum muslimin pada pagi harinya agar berjalan dari arah kejauhan
menuju medan perang dengan menarik pelepah-pelepah pohon sehingga dari kejauhan
terlihat seperti pasukan bantuan yg datang dengan membuat debu-debu
berterbangan. Pasukan musuh yg menyaksikan peristiwa tersebut mengira bahwa
pasukan muslim benar-benar mendapatkan bala bantuan. Mereka berpikir, bahwa
kemarin dengan 3000 orang pasukan saja merasa kewalahan, apalagi jika datang
pasukan bantuan. Karena itu, pasukan musuh merasa takut dan akhirnya
mengundurkan diri dari medan pertempuran. Pasukan Islam lalu kembali ke
Madinah, mereka tidak mengejar pasukan Romawi yang lari, karena dengan
mundurnya pasukan Romawi berarti Islam sudah menang.
g. Futhu
Makkah.
Pembebasan Mekkah merupakan
peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, dimana Muhammad
beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah
menuju Mekkah,
dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah
sedikitpun,[rujukan?]
sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah.
Pada tahun 628, Quraisy
dan Muslim dari Madinah menandatangani Perjanjian Hudaybiyah. Meskipun hubungan
yang lebih baik terjadi antara Mekkah dan Madinah setelah penandatanganan Perjanjian
Hudaybiyah, 10 tahun gencatan senjata dirusak oleh Quraisy, dengan sekutunya
Bani Bakr, menyerang Bani Khuza'ah yang merupakan sekutu Muslim. Pada saat itu
musyrikin Quraisy ikut membantu Bani Bakr, padahal berdasarkan kesepakatan
damai dalam perjanjian tersebut dimana Bani Khuza'ah telah bergabung ikut
dengan Nabi Muhammad dan sejumlah dari mereka telah memeluk islam, sedangkan
Bani Bakr bergabung dengan musyrikin Quraisy.
Abu Sufyan,
kepala suku Quraisy
di Mekkah, pergi ke Madinah untuk memperbaiki perjanjian yang telah dirusak
itu, tetapi Muhammad menolak, Abu Sufyan pun pulang dengan tangan kosong.
Sekitar 10.000 orang pasukan Muslim pergi ke Mekkah yang segera menyerah dengan
damai. Muhammad bermurah hati kepada pihak Mekkah, dan memerintahkan untuk
menghancurkan berhala di sekitar dan di dalam Ka'bah. Selain itu hukuman mati
juga ditetapkan atas 17 orang
Mekkah atas kejahatan mereka terhadap orang Muslim, meskipun pada
akhirnya beberapa di antaranya diampuni.
Tanggal 10
Ramadan 8 H, Nabi Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju
Mekkah, dan kota Madinah diwakilkannya kepada Abu Ruhm Al-Ghifary.
Ketika
sampai di Dzu Thuwa, Nabi Muhammad membagi pasukannya, yang terdiri dari tiga
bagian, masing-masing adalah:
1.
Khalid bin
Walid memimpin pasukan untuk memasuki Mekkah dari bagian bawah,
2.
Zubair bin Awwam memimpin
pasukan memasuki Mekkah bagian atas dari bukit Kada', dan menegakkan bendera di
Al-Hajun,
3.
Abu Ubaidah bin al-Jarrah memimpin pasukan
dari tengah-tengah lembah hingga sampai ke Mekkah.
Dari
Al-Hajun Nabi Muhammad memasuki Mesjid Al-Haram dengan dikelilingi kaum
Muhajirin dan Anshar. Setelah thawaf mengelilingi Ka'bah, Nabi Muhammad mulai
menghancurkan berhala dan membersihkan Ka'bah. Dan selesailah pembebasan
Mekkah.
h. Perang
hunain.
Perang Hunain berlangsung antara kaum muslim melawan
kaum Quraisy yang terdiri dari Bani Hawazin, Bani Saqif, Bani Nasr dan Bani
Jusyam. Perang ini terjadi di Lembah Hunain, sekitar 70 km dari Mekah. Perang
Hunain merupakan balas dendam kaum Quraisy karena peristiwa Fath al-Makkah.
Pada awalnya pasukan musuh berhasil mengacaubalaukan pasukan Islam sehingga
banyak pasukan Islam yang gugur. Nabi SAW kemudian menyemangati pasukannya dan
memimpin langsung peperangan. Pasukan muslim akhirnya dapat memenangkan
pertempuran tersebut.
i.
Perang thaif.
Pasukan muslim mengejar sisa pasukan Quraisy, yang
melarikan diri dari Hunain, sampai di kota Ta'if. Pasukan Quraisy bersembunyi
dalam benteng kota yang kokoh sehingga pasukan muslimin tidak dapat menembus
benteng. Nabi Muhammad SAW mengubah taktik perangnya dengan memblokade seluruh
wilayah Ta'if. Pasukan muslimin kemudian membakar ladang anggur yang merupakan
sumber daya alam utama penduduk Ta'if. Penduduk Ta'if pada akhirnya menyerah
dan menyatakan bergabung dengan pasukan Islam.
j.
Perang tabuk.
Perang ini terjadi pada bulan Rajab tahun 9 Hijriah. Tabuk adalah suatu
tempat yang terletak antara Hijaz dan Syam.
Peperangan
ini bermula dari keinginan kerajaan Romawi untuk menyerang negara Islam
Madinah. Mereka mengumpulkan tentaranya di Syam dan beraliansi dengan
kabilah-kabilah Arab lainnya, seperti Lakham, Juzam, Amilah, dan Ghasan.
Rasulullah
mengadakan persiapan untuk menghadapi tantangan ini. Tetapi mengalami banyak
kesulitan, karena cuaca waktu itu sangat panas. Sungguhpun begitu semangat
juang kaum Mukminin tidak luntur sedikit pun. Ada tiga orang sahabat yang
bersedia mengeluarkan biaya untuk keperluan itu. Abu Bakar menginfakkan 40.000
dirham, Umar menyedekahkan seperdua dari nilai kekayaannya, dan Utsman pun
begitu.
Namun uang
sebesar itu baru bisa menutup sepertiga ongkos perang atau baru bisa membiayai
pasukan sejumlah 10.000 orang. Padahal Rasulullah berhasil menghimpun 30.000
orang tentara yang terdiri atas 20.000 infanteri dan 10.000 orang tentara
berkuda (kavaleri). Ini merupakan pasukan terbesar sepanjang sejarah peperangan
bangsa-bangsa Arab, sampai dewasa ini.
Nabi dan
pasukannya segera mencapai Desa Tabuk. Tetapi setelah bersiaga selama lebih
kurang 20 hari, ternyata pasukan Romawi dan sekutu-sekutunya tidak juga kunjung
datang, sehingga Nabi pulang ke Madinah.
Perang Tabuk
ini merupakan peperangan yang terakhir selama hidup Nabi. Dan atas peristiwa
ini turun firman Allah, “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi,
orang-orang Muhajirin dan Anshar yang mengikuti Nabi dalam rnasa sulit, setelah
hati sebagian mereka hampir berpaling. Kemudian Allah menerima taubat mereka
itu. Sesungguhnya Allah Maha pengampun dan Maha Penyayang. Dan terhadap tiga
orang yang ditangguhkan penerimaan taubatnya, hingga apabila bumi telah menjadi
sempit oleh mereka, serta mereka telah mengetahui tidak ada tempat berlindung
dari siksaan, melainkan kepada Allah saja. Kemudian Allah menerima taubat
mereka agar mereka tetap di dalamnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat
lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 117-118)
C. Akhir Dakwah Sekaligus
Akhir Hayat Rasulullah SAW.
Pada suatu ketika, rasulullah hendak mengirim
pasukan ekspedisi ke syam dan palestina. Beliau telah menunjuk beberapa sahabat
yang akan berangkat. Beliau juga menunjuk usama (putra zaid bin harits, anak
angkat rasul) untuk memimpin ekspedisis tersebut. Meskipun keputusan tersebut
kontropersial, karena usama belum genap 20 tahun. Namun rasulullah memiliki
alasan tersendiri. Ketika pasukan sudah siap, tiba-tiba rasul jatuh sakit.
Sakit beliau makin hari makin parah. Sehigga suatu ketika rasul tidak bisa
mengimami shalat berjama’ah, dan sempat rasul pingsan juga. Beliau sakit panas
hingga tubuhnya terasa terbakar. Usama dan pasukannya masih berada di madinah
karena keadaan rasul semakin parah. Rasulullah meminta abu bakar menggantikan
beliau mengimami shalat berjama’ah di mesjid. Meskipun aisyah sempat protes,
karena abu bakar suaranya pelan dan sering menangis saat membaca al-qur’an.
Suatu ketika terdengar suara umar yang keras yang mengimami shalat berjama’ah,
rasulullah berkata “mana abu bakar?”. Belakangan, banyak orang percaya, bahwa
kejadian tersebut adalah isyarat Rasul agar kaum Muslimin memilih Abu Bakar
sebagai penggantinya kelak. Dalam keadaan sakit ia berwasiat kepada istrnya
untuk menyedeahkan hartanya yang tinggal 7 dinar. Saat demam mereda beliau
pergi ke mesjid untuk melaksanakan shalat berjamaah dengan di topang ali bin
abi thalib danfadzil bin abbas. Abu bakar menyisih untuk memberi tempat, namun
rasul mendorng abu bakar untuk menjadi imam. Rasul shalat di sebelah kanan abu
bakar. Kaum muslimin mulai tenang karena rasul mulai menunjukan kesembuhan.
Usama dan pasukannya pun pamit. Rasul sempat mendo’akan mereka dan menjelaskan
alasan ditunjukny usama sebagai pemimpin pasukan ekspedisi. Namun saat tersebut
pun tiba. Pasa musim panas, bertepatan dengan tanggal 12 rabiul awal 11H/ 8 juni 632M. Saat itu Rasulullah SAW berusia
63 tahun. Kaum muslimin terguncang, bahkan umar bin khatab sampai berkata akan
memotong kaki siapa saja yang mengaatakan rasulullah telah wafat. Namun abu
bakar memnenangkannya dan mengatakan kepada seluruh kaum muslimin qs ali-imran:144 ( Syaikh
Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, wafat).
Bab
iii
Penutup
Sebagai
penutup dari makalah ini. Kami menyimpulkan bahwasannya rasulullah seorang
teladan yang membawa ajaran rahmatan lil‘alamin telah mengukir sejarah yang
sangat kokoh dan penuh dengan perjuangan. Ia terlahir dalam lingkungan yang
gelap gulita, namun ia tidak kegelapan. Ia berhasil menjadi sumber cahaya
penerang zaman. Ia membawa ajaran yang menyelamatkan kaum yang tertindas dan
menyadarkan kaum penguasa (pemuka dan bangsawan). Dialah Rasululullah SAW yang
setiap grak dan perkataannya di bimbing oleh wahyu dari sang khaliq (Allah
SWT). Beliau merupakan insan ideal. Beliau lahir disambut suka cita penuh
kegembiraan. Beliau wafat diantar tangis dan rasa kehilangan yang sangat
mendalam seluruh insan.
Semoga
kita termasuk umatnya yang memegang teguh ajaran yang di ajarkannya. Dan
istiqamah di jalan yang telah Allah swt tunjukan melalui insan mulia Muhammad
SAW.
Daftar
pustaka
usmani
rofi, ahmad. 2009. muhammad sang kekasih. mizania: bandung
asy-syarqawi,
abdurrohman. 2007. muhammad sang teladan. irsyad baitus salam: bandung
suntiah,
ratu dan maslani. 2010. sejarah peradaban islam. cv. insan mandiri: bandung
Al-Mubarakfury,
Syaikh Shafiyyur-Rahman. sirah nabawiyah.E-book