Kamis, 16 Mei 2013

sirah nabawiyah


Bab i
Pendahuluan
Seperti yang kia ketahui, sejarah yang secara bahasa artinya pohon, dianalogikan sebagai penentu dahan,  rantin, daun, bunga dan buah yang itu merupakan masa depan. Dalam islam, adalah seseorang yang mengukir sejarah yang kuat demi kemajuan islam di masa depan. Ia mendobrak zaman yang penuh kebobrokan moral menuju zaman yang sejahtera.
Dikala kebanyakan orang hanya mementingkan hawa nafsu mereka sendiri. Memenuhi kebutuhan dengan cara apapun juga. Tak perduli halal atau haram yang itu telah dijelaskan dalam kitab-kitab utusan allah pada masa sebelumnya. Penindasan kaum lemah oleh kaum bangsawan untuk memperkaya diri para bangsawan yang tak kunjung puas atas apa yang telah mereka miliki. Para pemuka dan bangsawan menjadi tuan dari kaum selain mereka yang menjadi sapi perahan mereka.
Kehidupan diatur oleh aturan para bangswan, melalui patung tuli dan tukang tenung yang dianggap mampu menafsirkan keinginan berhala-berhala yang tak mampu apa-apa.
Tibalah saatnya seseorang lahir dengan kemuliaan menyertainya. Ia mengemban tanggung jawab yang sangat berat. Ia menyeimbangkan tatanan hidup yang ta seimbang. Menerangi kehidupa yang diluputi kegelapan. Dialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib (Rasulullah SAW).
Dalam makalah ini, penulis sajikan sekilas riwayat hidup Rasulullah SAW dari mulai beliau lahir hingga wafat meninggalkan mu’jizat yang amat besar. Dalam makalah ini juga sekilas dijelaskan keadaan Makkah sebelum ajaran Rasulullah SAW tumbuh. Semoga apa yang kami ceritakan dapat menjadi hikmah bagi pembaca. Dan adapun banyak kesalahan dan kekurangan dari kami dalam mamkalah ini, itu murni dari kebodohan kami sendiri. Kami mohon maaf sebesar-besarnya. Semoga Allah mengampuni kami.





Bab ii
Pembahasan
A.      Masa Sebelum Kerasulan
  1. Sebelum kelahiran nabi Muhammad SAW.
Sebalum kita membahas arab pada zaman Rasulullah SAW, sekilas penulis paparkan mengenai keadaan arab, khususnya kota Makkah pra kelahiran Rasulullah SAW.
Seperti telah kita ketahui sebelumnya, bahwa kota Makkah pada saat itu merupakan sentra perdagangan terutama di timur tengah. Perekonomiannya pun sangat pesat. Namun dibalik kemapanan di bidang ekonomi, moral dari mayoritas penduduknya sangatlah rusak. Oleh karena itu, zaman tersebut disebut zaman jahiliyah (kebodohan). Seorang bapak membunuh anak perempuannya, karena anak perempuan dipandang sangat hina pada masa itu. Mereka dianggap sebagai sumber kesialan bagi keluarganya. Tatanan kehidupan di pegang penuh oleh para pemuka dari kalangan bangsawan. Sedangkan mereka kaum lemah hanya menjadi sapi perahan baigi para bangsawan. Utaang piutang kadang dibayar dengan kemerdekaan diri dan kehormatan anak, istri, bahkan diri sendiri. Perbudakan dan penjualan orag (budak), perjudian, perzinahan, dll telah serasa membudaya pada masa tersebut. Tuhan tuhan tuli menguasai kehidupan masyarakat kecuali para bangsawan yang mengutus tukang tenung sebagai penafsir keinginan patung tuli yang itu merupakan keinginan para bansawan dalam memperkaya diri. (Abdurrohman Asy-syarqawi,37-49)
  1. Kelahiran nabi Muhammad SAW.
Ditengah kemelut tatanan masyarakat yang jauh dari tuhanny, bobrok dalam akhlaknya, lahirlah seorang utusan allah yaitu Muhammad. Nabi Muuhammad SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul awal tahun gajah, yang bertepatan dengan tanggal 20 April 570M. Beliau lahir dari sorang ibu yag bernama siti aminah binti wahab dan ayahya bernama abdullah bin abdul muthalib. Dimana kakeknya (abdul muthalib) adalah kepala suku quraisy pada saat itu. Belia lahir dari keturunan dua orang yang akan dikorbankan (nyawanya). Yang  pertama adalah nabi isma’il as yang akan dikorbankan oleh nabi ibrahim karena peritah allah, yang sampai saat ini peristiwa tersebut diabadikan dalam iedul adha. Yang kedua yaitu ayahnya sendiri yang akan dikorbankan dihadapan berhala tuli untuk memenuihi nadzarnya yang terkabul. Ia bernadzar jika ia memiliki 10 anak laki-laki akan ia korbankan (sembelih) salah satunya. Dan pengudian tiba abdullah yang terpilih. Namun orang-orang menghalangi niat tersebut dan melakukan undian antara abdullah dan beberapa ekor unta. Setiap undian nama abdullah yang keluar ditambah 10 ekor dalam undian hingga mencapai 100 ekor undian htersebut baru mengeluarkan hasil selain nama abdullah. Nadzarnya pun mengorbankan abdullah diganti dengan 100 ekor unta.(RatuSuntiah dan Maslani,2011:29)
Ibnu Sa'ad meriwayatkan bahwa ibunda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "ketika aku melahirkannya, dari farajku keluar cahaya yang menerangi istana-istana negeri Syam". Imam Ahmad, ad-Darimi dan selain keduanya juga meriwayatkan versi yang hampir mirip dengan riwayat tersebut.
Ada riwayat yang menyebutkan telah terjadi irhashaat (tanda-tanda awal yang menunjukkan kenabian) ketika milad beliau Shallallahu 'alaihi wasallam, diantaranya; runtuhnya empat belas balkon istana kekaisaran, padamnya api yang sekian lama disembah oleh kaum Majusi, hancurnya gereja-gereja disekitar danau Saawah setelah airnya menyusut. Riwayat tersebut dilansir oleh ath-Thabari, al-Baihaqi dan selain keduanya namun tidak memiliki sanad yang valid.
Setelah beliau Shallallahu 'alaihi wasallam dilahirkan, beliau dikirim oleh ibundanya ke rumah kakeknya, 'Abdul Muththalib dan menginformasikan kepadanya berita gembira perihal cucunya tersebut. Kakeknya langsung datang dengan sukacita dan memboyong cucunya tersebut masuk ke Ka'bah; berdoa kepada Allah dan bersyukur kepadaNya. Kemudian memberinya nama Muhammad padahal nama seperti ini tidak populer ketika itu di kalangan bangsa Arab, dan pada tujuh hari kelahirannya dia mengkhitan beliau sebagaimana tradisi yang berlaku di kalangan bangsa Arab.
Wanita pertama yang menyusui beliau Shallallahu 'alaihi wasallam setelah ibundanya adalah Tsuaibah. Wanita ini merupakan budak wanita Abu Lahab yang saat itu juga tengah menyusui bayinya yang bernama Masruh . Sebelumnya, dia juga telah menyusui Hamzah bin 'Abdulul Muththalib, kemudian menyusui Abu Salamah bin 'Abdul Asad al-Makhzumi setelah beliau Shallallahu 'alaihi wasallam. ( Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, 06)

  1. Masa kanak-kanak nabi Muhammad SAW.
a.       Beliau lahira sebagai seorang yatim
Ayah nabi muhammad meninggal pada saat beliau berusia 3 bulan dalam kandungan  dan ibunya meninggal pada saat beliau berusia 6 tahun di sebuah desa yang bernama abwa sepulang ziarah ke makam abdullah dan rumah paman-pamannya di madinah. Setalh itu muhammad tinggal bersama kakeknya selama 2 tahun yang kemudian kakeknya pun wafat. Tanggung jawab atas muhammad setelah itu dialihkan ke keluarga salah satu pamannya abu thalib.(RatuSuntiah dan Maslani,2011:31)
b.      Muhammad dalam asuhan Halimah
Tradisi yang berlaku di kalangan bangsa Arab yang sudah berperadaban adalah mencari para wanita yang dapat menyusui bayi-bayi mereka sebagai tindakan prefentif terhadap serangan penyakit-penyakit yang biasa tersebar di alam peradaban. Hal itu mereka lakukan agar tubuh bayi-bayi mereka tersebut kuat, otot-otot mereka kekar serta menjaga agar lisan Arab mereka tetap orisinil sebagaimana lisan ibu mereka dan tidak terkontaminasi. Oleh karena itu, 'Abdul Muththalib mencari wanita-wanita yang dapat menyusui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam; dia memilih seorang wanita dari kabilah Bani Sa'ad bin Bakr, yaitu Halimah binti Abu Dzuaib sebagai wanita penyusu beliau. Suami dari wanita ini bernama al-Harits bin 'Abdul 'Uzza yang berjuluk Abu Kabsyah, dari kabilah yang sama.
Dengan begitu, di sana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memiliki banyak saudara sesusuan, yaitu; 'Abdullah bin al-Harits, Anisah binti al-Harits, Hudzafah atau Judzamah binti al-Harits (dialah yang berjuluk asy-Syaima' yang kemudian lebih populer menjadi namanya dan yang juga merawat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam) serta Abu Sufyan bin al-Harits bin 'Abdul Muththalib, saudara sepupu Rasulullah.
Paman beliau Shallallahu 'alaihi wasallam, Hamzah bin 'Abdul Muththalib juga disusui di tengah kabilah Bani Sa'ad bin Bakr. Ibunya juga menyusui beliau selama sehari, yaitu ketika beliau berada disisi ibu susuannya, Halimah. Dengan demikian Hamzah merupakan saudara sesusuan Rasulullah dari dua sisi: Tsuaibah dan (Halimah) as-Sa'diyyah.


c.       Keberkahan dalam mengasuh calon utusan Allah.
Halimah merasakan adanya keberkahan serta kisah-kisah yang aneh lainnya sejak kehadiran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di tengah keluarganya. Untuk itu, baiklah kita biarkan dia mengisahkannya sendiri secaradetail:
" Ibnu Ishaq berkata: 'Halimah pernah berkisah: bahwasanya suatu ketika dia pergi keluar bersama suami dan bayinya yang masih kecil dan menyusui. Dia juga membawa serta beberapa wanita yang sama-sama tengah mencari bayi-bayi susuan. Ketika itu sedang dilanda musim paceklik sedangkan kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi, lalu aku pergi dengan mengendarai seekor keledai betina berwarna putih kehijauan milikku beserta seekor onta yang sudah tua. Demi Allah! Tidak pernah hujan turun meski setetespun, kami juga tidak bisa melewati malam dengan tidur pulas lantaran tangis bayi kami yang mengerang kelaparan sedangkan ASI di payudaraku tidak mencukupi. Begitu juga dengan air susu onta tua yang bersama kami tersebut sudah tidak berisi. Akan tetapi kami selalu berharap pertolongan dan jalan keluar. Aku kembali pergi keluar dengan mengendarai onta betina milikku yang sudah tidak kuat lagi untuk meneruskan perjalanan sehingga hal ini membuat rombongan kami gelisah akibat letih dan kondisi kekeringan yang melilit. Akhirnya kami sampai juga ke Mekkah untuk mencari bayi-bayi susuan akan tetapi tidak seorang wanita pun diantara kami ketika disodorkan untuk menyusui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melainkan menolaknya setelah mengetahui kondisi beliau yang yatim. Sebab, tujuan kami (rombongan wanita penyusu bayi), hanya mengharapkan imbalan materi dari orang tua si bayi sedangkan beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bayi yang yatim, lantas apa gerangan yang dapat diberikan oleh ibu dan kakeknya buat kami?. Kami semua tidak menyukainya karena hal itu; akhirnya, semua wanita penyusu yang bersamaku mendapatkan bayi susuan kecuali aku. Tatkala kami semua sepakat akan berangkat pulang, aku berkata kepada suamiku: 'demi Allah! Aku tidak sudi pulang bersama teman-temanku tanpa membawa seorang bayi susuan. Demi Allah! Aku akan pergi ke rumah bayi yatim tersebut dan akan mengambilnya menjadi bayi susuanku. Lalu suamiku berkata: 'tidak ada salahnya bila kamu melakukan hal itu, mudah-mudahan Allah menjadikan kehadirannya di tengah kita suatu keberkahan. Akhirnya aku pergi ke rumah beliau Shallallahu 'alaihi wasallam dan membawanya serta. Sebenarnya, motivasiku membawanya serta hanyalah karena belum mendapatkan bayi susuan yang lain selain beliau. Setelah itu, aku pulang dengan membawanya serta dan mengendarai tungganganku. Ketika dia kubaringkan di pangkuanku dan menyodorkan puting susuku ke mulutnya supaya menetek ASI yang ada seberapa dia suka, diapun meneteknya hingga kenyang, dilanjutkan kemudian oleh saudara sesusuannya (bayiku) hingga kenyang pula. Kemudian keduanya tertidur dengan pulas padahal sebelumnya kami tak bisa memicingkan mata untuk tidur karena tangis bayi kami tersebut. Suamiku mengontrol onta tua milik kami dan ternyata susunya sudah berisi, lalu dia memerasnya untuk diminum. Aku juga ikut minum hingga perut kami kenyang, dan malam itu bagi kami adalah malam tidur yang paling indah yang pernah kami rasakan. Pada pagi harinya, suamiku berkata kepadaku:' demi Allah! Tahukah kamu wahai Halimah?; kamu telah mengambil manusia yang diberkahi'. Aku berkata: 'demi Allah! Aku berharap demikian'. Kemudian kami pergi keluar lagi dan aku menunggangi onta betinaku dan membawa serta beliau Shallallahu 'alaihi wasallam diatasnya. Demi Allah! Onta betinaku tersebut sanggup menempuh perjalanan yang tidak sanggup dilakukan oleh onta-onta mereka, sehingga teman-teman wanitaku dengan penuh keheranan berkata kepadaku:'wahai putri Abu Zuaib! Celaka! Kasihanilah kami bukankah onta ini yang dulu pernah bersamamu?, aku menjawab:'demi Allah! Inilah onta yang dulu itu!'. Mereka berkata:'demi Allah! Sesungguhnya onta ini memiliki keistimewaan'. Kemudian kami mendatangi tempat tinggal kami di perkampungan kabilah Bani Sa'ad. Sepanjang pengetahuanku tidak ada bumi Allah yang lebih tandus darinya; ketika kami datang, kambingku tampak dalam keadaan kenyang dan banyak air susunya sehingga kami dapat memerasnya dan meminumnya padahal orang-orang tidak mendapatkan setetes air susupun walaupun dari kambing yang gemuk. Kejadian ini membuat orang-orang yang hadir dari kaumku berkata kepada para pengembala mereka: celakalah kalian! Pergilah membuntuti kemana saja pengembala kambing putri Abu Zuaib mengembalakannya. Meskipun demikian, realitasnya, kambing-kambing mereka tetap kelaparan dan tidak mengeluarkan air susu setetespun sedangkan kambingku selalu kenyang dan banyak air susunya. Demikianlah, kami selalu mendapatkan tambahan nikmat dan kebaikan dari Allah hingga tak terasa dua tahun pun berlalu dan tiba waktuku untuk menyapihnya. Dia tumbuh besar namun tidak seperti kebanyakan anak-anak sebayanya; sebab belum mencapai usia dua tahun dia sudah tumbuh dengan postur yang bongsor. Akhirnya, kami mengunjungi ibunya dan dalam hati yang paling dalam kami sangat berharap dia masih berada di tengah keluarga kami dikarenakan keberkahan yang kami rasakan sejak keberadaannya dan itu semua kami ceritakan kepada ibundanya. Aku berkata kepadanya: 'kiranya anda sudi membiarkan anak ini bersamaku lagi hingga dia besar, sebab aku khawatir dia terserang penyakit menular yang ada di Mekkah'. Kami terus mendesaknya hingga dia bersedia mempercayakannya kepada kami lagi".
d.      Kejadian yang membuat halimah cemas.
Begitulah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam akhirnya tetap tinggal di lingkungan kabilah Bani Sa'ad, hingga terjadinya peristiwa dibelahnya dada beliau ketika berusia empat atau lima tahun. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam didatangi oleh Jibril 'alaihissalam saat beliau tengah bermain bersama teman-teman sebayanya. Jibril memegang beliau sehingga membuatnya pingsan lalu membelah bagian dari hatinya, kemudian mengeluarkannya segumpal darah bersamanya. Jibril berkata: 'ini adalah bagian syaithan yang ada pada dirimu! Kemudian meletakkannya di dalam baskom yang terbuat dari emas dan mencucinya dengan air zam-zam, merapikan dan mengembalikannya ke tempat semula. Teman-teman sebayanya tersebut berlarian mencari ibu susuannya seraya berkata:'sesungguhnya Muhammad sudah dibunuh!'. Mereka akhirnya beramai-ramai menghampirinya dan menemukannya dalam kondisi rona muka yang sudah berubah. Anas berkata: 'sungguh aku telah melihat bekas jahitan itu di dada beliau Shallallahu 'alaihi wasallam '.( Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, 06)
Setelah kejadian tersebut, Muhammad pun dikembalikan kepada ibunya yang pada waktu itu berusia sekitar 5 tahun. Dalam perjalanan pulangnya Muhammad ke keluarganya, terjadi kejadian yang membuat Halimah kembali cemas, yaitu di sebuah tempat ramai sebelum memasuki dataran tinggi makkah,tiba-tiba muhammad menghilang dan Halimah tidak menemukannya lagi. Hal itu disampaikan kepada keluarganya. Tapi, beberapa saat kemudian Muhammad datang dengan seorang pemuda yang bernama Waraqah. Kakeknya kegirangan dan memeluk muhammad serta melakukan tawaf untuk muhammad. (Abdurrohman Asy-syarqawi, 60-61)
e.       Muhammad dalam asuhan ibu dan kakeknya.
Setelah 1 tahun Muhammad bersama ibunya (Amunah), Aminah memandang perlu untuk menziarahi kuburan suaminya di Yatsrib sebagai bentuk kesetiaannya terhadapnya. Akhirnya, dia keluar dari Mekkah dengan menempuh perjalanan yang mencapai 500 km bersama anaknya yang masih yatim, Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, pembantunya, Ummu Aiman dan mertuanya, 'Abdul Muththalib. Setelah menginap selama sebulan disana, dia kembali pulang ke Mekkah akan tetapi di tengah perjalanan dia diserang sakit keras sehingga akhirnya meninggal dunia di al-Abwa' , suatu tempat yang terletak antara Mekkah dan Madinah.
Muhammad kemudian diasuh oleh kakeknya. Namun 2 tahun bersama kakeknya. Kakeknya jatuh sakit dan wafat. Muhammad pun diserahkan kepada salah satu pamannya, Abu Thalib.
  1. Diketahuinya muhammad calon rasul allah.
Dalam asuhan pamanya, pada saat muhammad berusia 12 tahun beliau ikut berdagang bersama pamannya ke syam (syiria). Dalam perjalanan mereka bertemu pendeta nasrani bernama bukhaira dari bashira (sebelah selatan syiria). Pendeta tersebut melihat tanda-tanda kenabian muhammad yang tertulis dalam injil.(RatuSuntiah dan Maslani,2011:31)
  1. Masa remaja nabi Muhammad SAW.
Pada usia 14 tahun beliau ikut serta dalam perang fijar ke 5, antara suku quraisy dan kinanah di satu pihak dan suku hawazin di pihak lain. Beliau bertugas memberi anak panah kepada paman-pamannya.(RatuSuntiah dan Maslani,2011:31)
Pada usia sekitar 19 tahun muhammad yang saat itu bermata pencaharian menggembalakan ternak. Memandang ia harus mencari pekerjaan lain. Muhammad pun memutuskan untuk berdagang. Ia di bantu pamannya untuk mulai berdagang, dimana barang dagangan yang ia bawa dari salah satu janda kaya (khadijah) yang akhirnya khadijah tertarik untuk mempersunting Muhammad karena kemuliaan budi pekertinya.
  1. Pernikahan nabi Muhammad dengan Siti Khadijah.
Pada usia 25 tahun nabi Muhammad menikah dengan siti khadijah yang berusia 40 tahun. Pernikahan tersebut melahirkan 6 anak yaitu fatiah, ummi kulsum, jainab, ruqayah, qosim dan abdullah.(RatuSuntiah dan Maslani,2011:31)
Saat itu Khadijah binti Khuwailid berusia 40 tahun -15 tahun lebih tua dibanding Muhammad. Ia pengusaha ternama di Mekah. Bisnisnya menjangkau wilayah Syria -daerah yang menjadi persimpangan antara "Jalur Sutera" Cina-Eropa dengan jalur Syria-Yaman. Ia cantik, lembut namun sangat disegani masyarakatnya. Orang-orang Mekah menjulukinya sebagai "Ath-Thahirah" (seorang suci) dan "Sayyidatul Quraish" (putri terhormat Quraish)." Khadijah dan Muhammad sama-sama keturunan Qushay.
Khadijah lalu menyampaikan keinginan menikah tersebut pada Muhammad, melalui Nufaisa -sahabatnya. Muhammad sempat gamang. Ia tidak punya apa-apa untuk menikah. Namun kedua belah pihak keluarga mendukung mereka. Dengan mas kawin 20 unta, Muhammad menikahi Khadijah. Paman Khadijah, Umar bin Asad menjadi wali lantaran Khuwailid telah meninggal sebelum Perang Fijar. Muhammad kemudian tinggal di rumah Khadijah.
Keluarga mereka tenteram dan damai. Pada usianya yang terbilang tua, Khadijah masih melahirkan enam anak. Dua anak pertama, Qasim dan Abdullah meninggal selagi kecil. Empat putri mereka tumbuh hingga dewasa. Zainab yang sulung dinikahkan dengan keponakan Khadijah, Abul'Ash bin Rabi'. Ruqaya dan Ummi Khulthum dinikahkan dengan kakak-adik putra Abu Lahab, paman Muhammad, yakni Uthba' dan Uthaiba. Setelah ajaran Islam turun, Abu Lahab meminta anak-anaknya menceraikan anak-anak Muhammad. Kelak mereka menikah dengan Khalifah Usman bin Affan, mula-mula Ruqaya yang kemudian wafat, lalu Ummi Khulthum. Si bungsu Fatimah masih kecil. Setelah masa Islam, Fatimah dinikahkan dengan Ali.
Perhatian pasangan Muhammad dan Khadijah bukan hanya memikirkan keluarganya sendiri, melainkan juga orang lain. Setiap musim paceklik tiba, Halimah -Ibu susu Muhammad-selalu datang minta bantuan. Mereka akan membekali pulang Halimah dengan air serta bahan pangan yang diangkut unta untuk memenuhi kebutuhan warga desanya. Mereka juga menolong Abu Thalib dari kemiskinannya. Untuk itu, Muhammad menemui pamannya yang kaya Abbas untuk mengambil salah seorang anak Abu Thalib, Ja'far, sedangkan keluarga Muhammad mengasuh anak yang lain, Ali. 
  1. Peristiwa hajarul aswad.
Dikala usia beliau 30 tahun, pada saat itu suku quraisy sedang melakukan renovasi ka’bah. Saat mencapai tahap akhir, yaitu peletkan batu hitam (hajar aswad) terjadi perselisihan antar suku, siapa yang berhak meletakan batu tersebut. Mereka pun menyepakati untuk menyerahkan persoalan ersebut kepada yang datang lebih dahulu ke tempat tersebut dini hari berikutnya. Dan ternyata muhammad lah orang tersebut. Mereka berkata “ inilah al-amin kami setuju dia yang menyelseaikan persoalan ini.(RatuSuntiah dan Maslani,2011:32)
Saat tiba peletakan batu hitam terjadi perseteruan siapa yang berhak melakukannya. Akhirnya, seorang tertua dan dihormati di antara mereka, Abu Ummayah bin Mughira dari Bani Makhzum, mengajukan usul. Urusan penempatan Hajar Aswad agar diserahkan pada orang pertama yang masuk ke pintu Shafa. Siapapun dia. Orang itu ternyata Muhammad Al-Amien.
Secara bijaksana, Muhammad melibatkan semua keluarga untuk meletakkan batu hitam itu. Caranya: ia membentangkan kain. Semua pemimpin keluarga dipersilakannya memegang pinggir kain. Muhammad mengangkat batu itu ke atas kain, lalu semua secara bersama-sama mengotong batu tersebut, kemudian Muhammad kembali mengangkat dan meletakkannya pada tempat semestinya.

B.       Masa Setelah kerasulan
  1. Kenabian dan kerasulan Rasulullah SAW.
Pada usia rasulullah SAW 40 tahun, beliau menerima wahyu pertama pada tanggal 17 ramadhan/ 6 agustus 611M. Pada malam itu beliau sedang berada di gua hira’, datanglah malaikat jibril meyampaikan wahyu pertama yaitu QS al-‘alaq:1-5. Karena peristiwa tersebut beliau bergegas pulang, dan menceritakan semua kejadian tersebut kepada khadijah. Setelah itu mereka berdua pergi ke waraqah bin naufal (ahli taurat dan injil pada sat itu). Waraqah menyatakan bahwa muhammad telah dipilih allah sebagai nabi.(RatuSuntiah dan Maslani,2011:33)
Setelah menerima wahyu pertama, nabi Muhammad SAW yang selalu datang ke gua hira’ dan menanti jibril muncul lagi, turunlah wahyu kedua yang merupakan perintah untuk menyebarkan ajaran islam yaitu QS Al-Muddatsie ayat 1-7. Dilanjutkan dengan perintah dakwah kepada kerabat dekat (QS As-Syu’ara ayat 214).kemudian diperintah untuk berdakwah kepada manusiasecara umum (Al-Hijr ayat 94). Setelah itu mulailah beliau berdakwah secara terang-terangan kepada kaum quraisy. (RatuSuntiah dan Maslani,2011:33)
  1. Permulaan dakwah Rasulullah SAW dan dakwah periode Makkah.
Pada awal dakwah beliau khadijah merupakan orang sekaligus perempuan pertama yang masuk islam. Kemudian rasulullah menyampaikan  kejadian aneh yang dialaminya saat di gua hira dan meyampaikan risalah yang diamanatkan Allah SWT kepadanya kepada sahabat karibnya yaitu abu bakar. Abu bakar pun menyambut baik ajaran tersebut tanpa sedikitpun penolakan, karena ia  dan orang pada umumnya tau rasulullah SAW adalah seorang yang terpercaya. Dari abu bakar mulai ajaran islam menyebar ke kalangan bangsawan. Setelah abu bakar masuk islam, beliau mengajak orang-orang di kalangan bangsawan seperti utsman bin affan untuk mengikuti ajaran yang dibawarasulullah (islam). Utsman pun masuk islam melalui ajakan abu bakar. Dari kalangan keluarga rasul, seorang anak angkat rasul bernama zaid bin harits kemudian masuk islam, setelah menerima kabar tersebut.  rasulullah mengajak sanak kerabatnya masuk islam dan menyampaikan kebenaran yang islam bawa. Namun beragam penolakan yang Rasulullah terima. Adapula yang menerima ajaran tersebut. Dan pada permulaan dakwah ada yang di sebut dengan Assabiqunal Awwalum (orang-orang yang pertama masuk islam) diantaranya: Kadijah, abu bakar, ustman bin affan, zaid bin harits, ali bin abi thalib, dll. Menurut para ahli sejarah jumlahnya mencapai 40 orang.
Rasululah SAW berdakwah periode makkah selama kira-kira 13 tahun sebelum akhirnya rasulullah hijrah ke yatsrib. Pada periode ini turun beberapa wahyu yang dalam mushaf dikenal dengan surat amkkiyah. Pada periode ini terjadi beberapa peristiwa seperti turunnya QS al-lahab akibat kecongkakkanabu lahab, isra’ mi’raj dan pemberian gelar Asy-syidiq kepada abu bakar,hijrah kehabsyi dan thaif, wafatnta paman dan istri Rasulullah SAW, dan banyak lagi perstiwa penting yang penulis tidak dapat menjelaskannya secara rinci dalam makalah ini.
  1. Awal tahun hijriyah dan periode madinah.
Suatu ketika,  perintah Allah untuk hijrah pun turun. Muhammad memberi tahu Abu Bakar. Para pemuda Qurais juga semakin ketat memata-matai rumah Muhammad. Mereka sesekali mengintip ke dalam rumah, melihat Muhammad berbaring di tempat tidurnya. Namun Muhammad meminta Ali mengenakan mantel hijaunya dari Hadramaut serta tidur di dipannya. Kaum Qurais tenang. Mereka pikir Muhammad masih tidur. Ketika esok harinya mendobrak pintu rumah Rasul, mereka hanya mendapati Ali yang mengaku tak tahu menahu tentang keberadaan Muhammad.
Malam itu, Muhammad telah menyelinap dari jalan belakang. Bersama Abu Bakar, ia berjalan mengendap dalam gelap, menuju sebuah gua di bukit Tsur. Sebuah pilihan cerdik. Kaum Qurais tentu menduga Muhammad menuju Yatsrib di utara Mekah. Muhammad malah melangkah ke selatan.
Dalam persembunyiannya, mereka tetap memasang telinga melalui Abdullah, anak Abu Bakar, yang tetap tinggal di Mekah. Setiap malam, Abdullah menemui mereka di gua melaporkan perkembangan suasana serta mengirim makanan yang disiapkan Aisyah dan saudaranya, Asma. Setiap pagi, pembantu Abu Bakar -Amir bin Fuhaira-menggembala kambing menghapus jejak itu.
Tiga malam mereka bersembunyi di gua itu. Satu riwayat menyebut sejumlah pemuda Qurais telah mencapai bibir gua. Abu Bakar gemetar meringkuk di sisi Muhammad. Saat itu, Muhammad berbisik. "La tahzan, innallaaha ma'ana (Jangan sedih, Allah bersama kita) ". Rasul juga menghibur dengan kata-kata, "Abu Bakar, kalau kau menduga kita hanya berdua, Allah-lah yang ketiga." Orang-orang Qurais itu lalu pergi. Konon mereka melihat sarang laba-laba serta burung merpati mengerami telur di mulut gua. Tak mungkin Muhammad bersembunyi di situ.
Setelah aman, Abdullah bin Uraiqiz membawa keluar mereka. Tiga unta beriringan ke Barat, berbekal makanan yang diikat dengan sobekan sabuk Asma. Abu Bakar disebut membawa seluruh uang simpanannya sebesar 5 ribu dirham. Mereka berjalan berputar menuju arah Tihama, dekat Laut Merah, melalui jalur yang paling jarang dilalui manusia. Baru kemudian mereka berbelok ke utara, ke Yatsrib, menapaki terik gurun. Siang-malam mereka terus berjalan.
Dalam perjalanan, seperti banyak orang  ceritakan ada utusan sayembara kafir quraisy yang di kirim untuk membunuh Muhammad yaitu salah satunya soraqah. Namun penulis tidak menceritakannya karena segala keterbatasan. Dua pekan kemudian, Muhammad tiba di Quba -desa perkebunan kurma di luar kota Yatsrib. Ia tinggal di sana selama empat hari dan membangun masjid sederhana. Di sana pula Muhammad bertemu kembali dengan Ali yang berjalan kaki ke Yatsrib. Mereka kemudian berjalan bersama menuju kota, dan disambut sangat meriah oleh warga Yatsrib dengan bacaan salawat.
Orang-orang berebut menawarkan rumahnya sebagai tempat tinggal Rasul. Tapi Muhammad menyebut bahwa ia akan tinggal di mana untanya berhenti sendiri. Sampai ke sebuah tempat penjemuran korma, unta itu berlutut. Muhammad menanyatakn tempat itu milik siapa. Ma'adh bin Afra menjawab, rumah itu milik Sahal dan Suhail -dua orang yatim dari Banu Najjar. Setelah dibeli, rumah itu pun dibangun menjadi masjid.
Pada usia 53 tahun -setelah 13 tahun masa kerasulannya serta membangun pondasi keislaman-Muhammad membuat langkah besar itu: hijrah. Langkah berbahaya namun mengantarkannya menjadi pemimpin utuh. Pemimpin keagamaan, kemasyarakatan juga politik. Peristiwa pada tahun 623 Masehi itu sekaligus mengajarkan keharusan umat Islam untuk berani menempuh langkah besar untuk mencari lingkungan atau lahan baru yang memungkinkan benih kebenaran dan kebajikan tumbuh lebih subur.
Periode madinah berlangsung selama 10 tahun, hingga beliau wafat padausia sekitar 63 tahun. Islam lebih berkembang di sini daripada di makkah. Pada periode ini rasulullah berperan sebagai pemimpin agama juga sekaligus kepala pemerintahan. Peran sebagai kepala pemerintahan diawali saat beliau diangkat sebagai hakim oleh warga madinah setelah bai’atul aqobah II di makkah. (RatuSuntiah dan Maslani,2011:40)
Dalam membangun masyarakat islam di madinah, dilakukan langkah-langkah seperti (1) mengubah nama yatsrib manjadi madinah, (2) mendirikan mesjid sebagai sarana ibadah dll, (3) membentuk hubungan persaudaraan antara kaum muhajirin dengan kaum anshar, (4) membangun persaudaraan dengan pihak lain yang bukan islam (5) pembentuk pasukan militer. (RatuSuntiah dan Maslani,2011:41)
Setelah 2 tahun beliau berada di madinah, beliau berada di madinah, beliau mengmandangkan piagam madinah. Piagam tersebut yang dianggap pakar sejarah sebagai konstitusi islam. Dan piagan tersebut yang merupakan awal mula lahir masyarakat madani. Setelah adanya piagam tersebut, nabi merupakan pendiri Negara islam pertama. (RatuSuntiah dan Maslani,2011:41)
  1. Beberapa peristiwa penting dan pertempuran yang dialami Rasulullah SAW dan kaum muslimin.
a.       Perang badar.
Perang Badar terjadi pada 7 Ramadhan, dua tahun setelah hijrah. Ini adalah peperangan pertama yang mana kaum Muslim (Muslimin) mendapat kemenangan terhadap kaum Kafir
Muslimin keluar dengan 300 lebih tentara tidak ada niat untuk menghadapi khafilah dagang yang hanya terdiri dari 40 lelaki, tidak berniat untuk menyerang tetapi hanya untuk menunjuk kekuatan terhadap mereka.
Kaum Quraish maju dengan pasukan besar yang terdiri dari 1000 lelaki, 600 pakaian perang, 100 ekor kuda, dan 700 ekor unta, dan persediaan makanan mewah yang cukup untuk beberapa hari.
Pertempuran dimuali pada pagi hari tahun kedua hujriyah. Rasulullah mengambil seganggam krikil dan melemparakannya ke arah kaum musyrik seraya berkata, “Hancurlah wajah-wajah mereka!” sehingga menimpa mata semua pasukan Quraisy. Allah pun mendukung kaum mukmin dengan bala bantuan berupa Malaikat. Akhirnya, kemenangan besar diraih kaum muslimin. Ada 70 musyrikin yang terbunuh dan 70 orang yang tertawan, sedangkan ada 14 orang dari kaum mukminin yang mengapai syahid.
b.      Perang uhud.
Dalam peperangan tersebut, kaum Muslimin menderita kekalahan dengan gugurnya 70 orang syuhada (64 orang kaum Anshar dan 6 orang dari kaum Muhajirin) serta yang menderita luka-luka di perkirakan 150 orang termasuk Rasulullah Saw sendiri, sementara dari kafir Quraisy yang tewas 22 orang. Dalam perang Uhud terjadi lima kali serangan balik yang dilakukan Muslimin maupun kafir Quraisy, antara lain :
Di lembah Qanaah, tempat basis pertahanan kaum kafir Quraisy. Di sini kaum Muslimin mendapat kemenangan. Di kaki bukit Ar Rumah, Hamzah bin Abdul Muthallib paman Nabi Muhammad Saw gugur karena ditombak oleh budak dari Jubair bin Muth’am Al-Quraisy yang bernama Wahsyi (yang kemudian hari dia masuk Islam) sebagian anak buah Abdullah bin Jubair Al Anshari itu sebanyak 40 orang turun dari bukit tersebut.
Para pemanah ikut berperang, sehingga pasukan pemanah tinggal 10 orang. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Khalid bin Walid yang kemudian menyerang dan menduduki bukit tersebut. Setelah bukit ini dikuasai oleh pasukan Khalid bin Walid, kaum muslimin mulai terdesak dan terus menjadi sasaran anak panah pasukan kafir Quraisy.
Di lereng bukit dan jalan menuju Jabal Uhud kaum Muslimin terus dipukul mundur oleh pasukan Quraisy. Kaum Muslimin terpencar ketiga arah yaitu sebelah Timur, Barat dan Utara untuk mengatur strategi serangan balik.
Kaum kafir Quraisy yang mengetahui tempat basis pertahanan dan persembunyian kaum Muslimin kemudian menyerang ke tiga tempat tersebut di dataran tinggi gunung Uhud
c.       Perang khandak.
Perang Khandaq ini terjadi karena hasutan kaum Yahudi. Sekelompok orang Yahudi Bani Nadhir disertai beberapa orang dari kabilah Arab Bani Wail pergi ke Makkah menemui orang-orang musyrikin Quraisy. Mereka menghasut pemimpin-pemimpin Quraisy supaya memerangi Rasulullah saw di Madinah. Setelah menghasut kaum musyrikin Quraisy, mereka lalu mendatangi kabilah Gathafan. Selain itu, mereka juga giat mendatangi kabilah-kabilah Arab di sekitar Makkah dengan maksud yang sama.Kaum musyrikin Quraisy dan Yahudi menyepakati pasukan yang akan dikirim ke Madinah sebanyak 10 ribu orang dengan perincian 4.000 orang tentara Quraisy, 6.000 orang kabilah Gathafan, sedangkan kaum yahudi akan menyerahkan hasil perkebunan kurma di Khaibar selama satu tahun pada kabilah Gathafan. Pihak musyrikin ini dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb, seorang tokoh Quraisy yang terkenal paling gigih memusuhi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin.
Mengetahui jumlah pasukan musyrikin yang besar itu, muncul perasaan khawatir dalam diri umat Islam. Rasulullah saw selaku panglima tertinggi mengadakan musyawarah dengan pasukannya dan mengatur strategi yang tepat dalam menghadapi pasukan Quraisy tersebut.
Dalam musyawarah Salman Al Farisy berpendapat supaya menghadang tentara kafir dengan cara membuat parit yang besar disekeliling Kota Madinah yang terbuka.
 Cara pertahanan sedemikian itu merupakan cara yang biasa dipakai oleh bangsa Parsi . Beliau berkata: ”Wahai Rasulullah.. dahulu ketika kami di Parsi jika takut akan serbuan tentera kuda maka kami akan menggali parit disekitar kami.”
Dengan adanya parit ini, kedua pasukan hanya bisa saling memanah. Dengan peperangan model ini, dari kubu kaum Muslimin menjadi syuhada sebanyak enam orang, sedangkan dari pasukan Quraisy sebanyak 12 orang. Dalam peristiwa ini, sempat terjadi duel satu lawan satu antara Ali bin Abi Thalib dengan Amr bin Abdu Wudd dan Ali berhasil membunuhnya.
d.      Perjanjian hudaibiyah.
Perjanjian Hudaibiyyah  adalah sebuah perjanjian yang di adakan di sebuah tempat di antara Madinah dan Mekkah pada bulan Maret 628 M (Dzulqaidah, 6 H)
Pada tahun 628 M, sekitar 1400 Muslim berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka mempersiapkan hewan kurban untuk dipersembahkan kepada kaum Quraisy. Quraisy, walaupun begitu, menyiagakan pasukannya untuk menahan Muslim agar tidak masuk ke Mekkah. Pada waktu ini, bangsa Arab benar benar bersiaga terhadap kekuatan militer Islam yang sedang berkembang. Nabi Muhammad mencoba agar tidak terjadi pertumpahan darah di Mekkah, karena Mekkah adalah tempat suci.
Akhirnya kaum Muslim menyetujui langkah Nabi Muhammad, bahwa jalur diplomasi lebih baik daripada berperang. Kejadian ini dituliskan pada surah Al-Fath ayat 4
Isi dari perjanjian ringkasnya :
1.      Nabi Muhammad meng-iyakan namanya didasari dengan nasab, bukan dengan status Rasul Allah.
2.      Basmalah sebagai sebuah etika risalah beliau juga ditolak oleh utusan Quraisy, dan Rasulullah mengalah.
3.      Disepakati gencatan senjata, tidak boleh saling menyerang antara kedua belah pihak selama 10 tahun
4.      Pihak Rasulullah harus kembali ke Madinah alias tidak boleh melaksanakan Umrah, tapi boleh umrah tahun depan.
5.      Bila ada pihak Quraisy yang menyeberang ke madinah (masuk Islam) tanpa persetujuan walinya , maka ia harus dikembalikan kepada Quraisy.
6.      Sebaliknya bila ada pihak Muhammad dari madinah yang menyeberang ke pihak Quraisy maka tidak akan di kembalikan ke madinah
7.      Tidak lupa kisah yang sangat dramatis dari Abu Jandal, orang pertama yang harus dikembalikan, saat itu pula harus dikembalikan ke pihak Quraisy.
e.       perang khaibar.
Pada bulan Muharram tahun ketujuh Hijriah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama 1400 sahabat yang ikut di Hudaibiyah berangkat menuju Khaibar. Telah kita ketahui bahwa sepulang mereka dari Hudaibiyah Allah menurunkan ayat sebagai janji kemenangan dari-Nya dan perintah untuk memerangi Yahudi di Khaibar dalam firman-Nya yang tercantum dalam QS. Al-Fath: 20.
Pada pagi hari itu para sahabat bergegas untuk berkumpul di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masing-masing berharap akan diserahi bendera komando. Namun, Rasulullah SAW menyerahkan bendera perang  kepada Ali bin Abi thalib dan berwasiat kepadanya, “Ajaklah mereka kepada Islam sebelum engkau memerangi mereka. Sebab, demi Allah, seandainya Allah memberi hidayah seorang di antara mereka lewat tanganmu maka sungguh itu lebih baik bagimu dari pada onta merah (harta bangsa Arab yang paling mewah ketika itu).” (Muslim).
Tatkala berlangsung pengepungan benteng-benteng Yahudi, tiba-tiba pahlawan andalan mereka bernama Marhab menantang dan mengajak sahabat untuk perang tanding. Amir bin Akwa radhiallahu ‘anhu melawannya dan beliau terbunuh mati syahid. Lalu Ali radhiallahu ‘anhu melawannya hingga membunuhnya dan menyebabkan runtuhnya mental kaum Yahudi dan sebagai sebab kekalahan mereka.
f.       Perang mu’tah.
Perang inin terjadi pada tanggal 5 Jumadil Awal tahun 8 H atau tahun 629 M.Penyebab perang Mu’tah ini bermula ketika Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam mengirim utusan bernama al-Harits bin Umair al-‘Azdi yang akan dikirim ke penguasa Bashra. Di tengah perjalanan, utusan itu ditangkap Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani dari bani Gasshaniyah (daerah jajahan romawi) dan dibawa ke hadapan kaisar Romawi Heraclius. Setelah itu kepalanya dipenggal. Pelecehan dan pembunuhan utusan negara termasuk menyalahi aturan politik dunia. Membunuh utusan sama saja ajakan untuk berperang. Hal inilah yang membuat beliau marah.
Pada perang ini, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam berkata “Pasukan ini dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, bila ia gugur komando dipegang oleh Jakfar bin Abu Thalib, bila gugur pula panji diambil oleh Abdullah bin Rawahah –saat itu beliau meneteskan air mata- selanjutnya bendera itu dipegang oleh seorang ‘pedang Allah’ dan Akhirnya Allah Subhânahu wata‘âlâ memberikan kemenangan. (HR. al-Bukhari)
saat terjadilah perang di daerah Mu’tah (sekitar Yordania sekarang). Perang dimulai. Komandan pasukan, Zaid bin Haritsah bertempur heroik, membabat pedangnya kesana kemari, menghabisi pasukan Romawi. Perlawanannya harus terhenti setelah ia tersungkur dari kudanya karena kudanya berhasil di ditombak. Zaid gugur setelah ditebas pedang lawan.

Lalu komandan perang dipegang Jakfar bin Abu Thalib. Jakfar bertempur dengan gagah berani sambil memegang bendera pasukan. Tiba-tiba tangan kirinya putus tertebas pedang musuh. Lalu bendera dipegang tangan kanannya. Namun tangan kanannya pun ditebas. Dalam kondisi demikian, semangat beliau tidak surut, ia tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar Radhiyallâhu ‘anhu, salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidak kurang 90 luka di bagian tubuh depan beliau akibat tusukan pedang dan anak panah.
Selanjutnya komando pasukan diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah. Namun nasibnya pun sama, gugur sebagai syuhada. Tsabit bin Arqam Radhiyallâhu ‘anhu mengambil bendera yang tidak bertuan itu dan berteriak memanggil para Sahabat Nabi agar menentukan pengganti yang memimpin kaum muslimin. Maka, pilihan mereka jatuh pada Khalid bin Walid Radhiyallâhu ‘anhu yang terkenal sebagai seorang yang punya strategi perang yang handal. Ini adalah peperangan pertamanya, karena belum lama dia masuk Islam.

Khalid bin Walid Radhiyallâhu ‘anhu sangat sadar, tidaklah mungkin menandingi pasukan sebesar pasukan Romawi tanpa siasat yang jitu. Ia lalu mengatur strategi, ditebarkan rasa takut ke diri musuh dengan selalu formasi pasukan setiap hari. Pasukan di barisan depan ditukar dibelakang, dan yang dibelakang berada didepan. Pasukan sayap kanan berganti posisi ke kiri begitupun sebaliknya. Tujuannya adalah agar pasukan romawi mengira pasukan muslimin mendapat bantuan tambahan pasukan baru.
Khalid bin Walid memerintahkan beberapa kelompok prajurit kaum muslimin pada pagi harinya agar berjalan dari arah kejauhan menuju medan perang dengan menarik pelepah-pelepah pohon sehingga dari kejauhan terlihat seperti pasukan bantuan yg datang dengan membuat debu-debu berterbangan. Pasukan musuh yg menyaksikan peristiwa tersebut mengira bahwa pasukan muslim benar-benar mendapatkan bala bantuan. Mereka berpikir, bahwa kemarin dengan 3000 orang pasukan saja merasa kewalahan, apalagi jika datang pasukan bantuan. Karena itu, pasukan musuh merasa takut dan akhirnya mengundurkan diri dari medan pertempuran. Pasukan Islam lalu kembali ke Madinah, mereka tidak mengejar pasukan Romawi yang lari, karena dengan mundurnya pasukan Romawi berarti Islam sudah menang.


g.      Futhu Makkah.
Pembebasan Mekkah  merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, dimana Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun,[rujukan?] sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah.
Pada tahun 628, Quraisy dan Muslim dari Madinah menandatangani Perjanjian Hudaybiyah. Meskipun hubungan yang lebih baik terjadi antara Mekkah dan Madinah setelah penandatanganan Perjanjian Hudaybiyah, 10 tahun gencatan senjata dirusak oleh Quraisy, dengan sekutunya Bani Bakr, menyerang Bani Khuza'ah yang merupakan sekutu Muslim. Pada saat itu musyrikin Quraisy ikut membantu Bani Bakr, padahal berdasarkan kesepakatan damai dalam perjanjian tersebut dimana Bani Khuza'ah telah bergabung ikut dengan Nabi Muhammad dan sejumlah dari mereka telah memeluk islam, sedangkan Bani Bakr bergabung dengan musyrikin Quraisy.
Abu Sufyan, kepala suku Quraisy di Mekkah, pergi ke Madinah untuk memperbaiki perjanjian yang telah dirusak itu, tetapi Muhammad menolak, Abu Sufyan pun pulang dengan tangan kosong. Sekitar 10.000 orang pasukan Muslim pergi ke Mekkah yang segera menyerah dengan damai. Muhammad bermurah hati kepada pihak Mekkah, dan memerintahkan untuk menghancurkan berhala di sekitar dan di dalam Ka'bah. Selain itu hukuman mati juga ditetapkan atas 17 orang Mekkah atas kejahatan mereka terhadap orang Muslim, meskipun pada akhirnya beberapa di antaranya diampuni.
Tanggal 10 Ramadan 8 H, Nabi Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kota Madinah diwakilkannya kepada Abu Ruhm Al-Ghifary.
Ketika sampai di Dzu Thuwa, Nabi Muhammad membagi pasukannya, yang terdiri dari tiga bagian, masing-masing adalah:
1.    Khalid bin Walid memimpin pasukan untuk memasuki Mekkah dari bagian bawah,
2.    Zubair bin Awwam memimpin pasukan memasuki Mekkah bagian atas dari bukit Kada', dan menegakkan bendera di Al-Hajun,
3.    Abu Ubaidah bin al-Jarrah memimpin pasukan dari tengah-tengah lembah hingga sampai ke Mekkah.
Dari Al-Hajun Nabi Muhammad memasuki Mesjid Al-Haram dengan dikelilingi kaum Muhajirin dan Anshar. Setelah thawaf mengelilingi Ka'bah, Nabi Muhammad mulai menghancurkan berhala dan membersihkan Ka'bah. Dan selesailah pembebasan Mekkah.
h.      Perang hunain.
Perang Hunain berlangsung antara kaum muslim melawan kaum Quraisy yang terdiri dari Bani Hawazin, Bani Saqif, Bani Nasr dan Bani Jusyam. Perang ini terjadi di Lembah Hunain, sekitar 70 km dari Mekah. Perang Hunain merupakan balas dendam kaum Quraisy karena peristiwa Fath al-Makkah. Pada awalnya pasukan musuh berhasil mengacaubalaukan pasukan Islam sehingga banyak pasukan Islam yang gugur. Nabi SAW kemudian menyemangati pasukannya dan memimpin langsung peperangan. Pasukan muslim akhirnya dapat memenangkan pertempuran tersebut.
i.        Perang thaif.
Pasukan muslim mengejar sisa pasukan Quraisy, yang melarikan diri dari Hunain, sampai di kota Ta'if. Pasukan Quraisy bersembunyi dalam benteng kota yang kokoh sehingga pasukan muslimin tidak dapat menembus benteng. Nabi Muhammad SAW mengubah taktik perangnya dengan memblokade seluruh wilayah Ta'if. Pasukan muslimin kemudian membakar ladang anggur yang merupakan sumber daya alam utama penduduk Ta'if. Penduduk Ta'if pada akhirnya menyerah dan menyatakan bergabung dengan pasukan Islam.
j.        Perang tabuk.
Perang ini terjadi pada bulan Rajab tahun 9 Hijriah. Tabuk adalah suatu tempat yang terletak antara Hijaz dan Syam.
Peperangan ini bermula dari keinginan kerajaan Romawi untuk menyerang negara Islam Madinah. Mereka mengumpulkan tentaranya di Syam dan beraliansi dengan kabilah-kabilah Arab lainnya, seperti Lakham, Juzam, Amilah, dan Ghasan.
Rasulullah mengadakan persiapan untuk menghadapi tantangan ini. Tetapi mengalami banyak kesulitan, karena cuaca waktu itu sangat panas. Sungguhpun begitu semangat juang kaum Mukminin tidak luntur sedikit pun. Ada tiga orang sahabat yang bersedia mengeluarkan biaya untuk keperluan itu. Abu Bakar menginfakkan 40.000 dirham, Umar menyedekahkan seperdua dari nilai kekayaannya, dan Utsman pun begitu.
Namun uang sebesar itu baru bisa menutup sepertiga ongkos perang atau baru bisa membiayai pasukan sejumlah 10.000 orang. Padahal Rasulullah berhasil menghimpun 30.000 orang tentara yang terdiri atas 20.000 infanteri dan 10.000 orang tentara berkuda (kavaleri). Ini merupakan pasukan terbesar sepanjang sejarah peperangan bangsa-bangsa Arab, sampai dewasa ini.
Nabi dan pasukannya segera mencapai Desa Tabuk. Tetapi setelah bersiaga selama lebih kurang 20 hari, ternyata pasukan Romawi dan sekutu-sekutunya tidak juga kunjung datang, sehingga Nabi pulang ke Madinah.
Perang Tabuk ini merupakan peperangan yang terakhir selama hidup Nabi. Dan atas peristiwa ini turun firman Allah, “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan Anshar yang mengikuti Nabi dalam rnasa sulit, setelah hati sebagian mereka hampir berpaling. Kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha pengampun dan Maha Penyayang. Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan penerimaan taubatnya, hingga apabila bumi telah menjadi sempit oleh mereka, serta mereka telah mengetahui tidak ada tempat berlindung dari siksaan, melainkan kepada Allah saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap di dalamnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 117-118)

C.       Akhir Dakwah Sekaligus Akhir Hayat Rasulullah SAW.
Pada suatu ketika, rasulullah hendak mengirim pasukan ekspedisi ke syam dan palestina. Beliau telah menunjuk beberapa sahabat yang akan berangkat. Beliau juga menunjuk usama (putra zaid bin harits, anak angkat rasul) untuk memimpin ekspedisis tersebut. Meskipun keputusan tersebut kontropersial, karena usama belum genap 20 tahun. Namun rasulullah memiliki alasan tersendiri. Ketika pasukan sudah siap, tiba-tiba rasul jatuh sakit. Sakit beliau makin hari makin parah. Sehigga suatu ketika rasul tidak bisa mengimami shalat berjama’ah, dan sempat rasul pingsan juga. Beliau sakit panas hingga tubuhnya terasa terbakar. Usama dan pasukannya masih berada di madinah karena keadaan rasul semakin parah. Rasulullah meminta abu bakar menggantikan beliau mengimami shalat berjama’ah di mesjid. Meskipun aisyah sempat protes, karena abu bakar suaranya pelan dan sering menangis saat membaca al-qur’an. Suatu ketika terdengar suara umar yang keras yang mengimami shalat berjama’ah, rasulullah berkata “mana abu bakar?”. Belakangan, banyak orang percaya, bahwa kejadian tersebut adalah isyarat Rasul agar kaum Muslimin memilih Abu Bakar sebagai penggantinya kelak. Dalam keadaan sakit ia berwasiat kepada istrnya untuk menyedeahkan hartanya yang tinggal 7 dinar. Saat demam mereda beliau pergi ke mesjid untuk melaksanakan shalat berjamaah dengan di topang ali bin abi thalib danfadzil bin abbas. Abu bakar menyisih untuk memberi tempat, namun rasul mendorng abu bakar untuk menjadi imam. Rasul shalat di sebelah kanan abu bakar. Kaum muslimin mulai tenang karena rasul mulai menunjukan kesembuhan. Usama dan pasukannya pun pamit. Rasul sempat mendo’akan mereka dan menjelaskan alasan ditunjukny usama sebagai pemimpin pasukan ekspedisi. Namun saat tersebut pun tiba. Pasa musim panas, bertepatan dengan tanggal 12 rabiul awal 11H/  8 juni 632M. Saat itu Rasulullah SAW berusia 63 tahun. Kaum muslimin terguncang, bahkan umar bin khatab sampai berkata akan memotong kaki siapa saja yang mengaatakan rasulullah telah wafat. Namun abu bakar memnenangkannya dan mengatakan kepada seluruh kaum muslimin qs ali-imran:144  ( Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, wafat).










Bab iii
Penutup
Sebagai penutup dari makalah ini. Kami menyimpulkan bahwasannya rasulullah seorang teladan yang membawa ajaran rahmatan lil‘alamin telah mengukir sejarah yang sangat kokoh dan penuh dengan perjuangan. Ia terlahir dalam lingkungan yang gelap gulita, namun ia tidak kegelapan. Ia berhasil menjadi sumber cahaya penerang zaman. Ia membawa ajaran yang menyelamatkan kaum yang tertindas dan menyadarkan kaum penguasa (pemuka dan bangsawan). Dialah Rasululullah SAW yang setiap grak dan perkataannya di bimbing oleh wahyu dari sang khaliq (Allah SWT). Beliau merupakan insan ideal. Beliau lahir disambut suka cita penuh kegembiraan. Beliau wafat diantar tangis dan rasa kehilangan yang sangat mendalam seluruh insan.
Semoga kita termasuk umatnya yang memegang teguh ajaran yang di ajarkannya. Dan istiqamah di jalan yang telah Allah swt tunjukan melalui insan mulia Muhammad SAW.











Daftar pustaka
usmani rofi, ahmad. 2009. muhammad sang kekasih. mizania: bandung
asy-syarqawi, abdurrohman. 2007. muhammad sang teladan. irsyad baitus salam: bandung
suntiah, ratu dan maslani. 2010. sejarah peradaban islam. cv. insan mandiri: bandung
Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyur-Rahman. sirah nabawiyah.E-book



Posting Komentar