Sahabat kali ini saya akan memperlihatkan
bagisahabat yangbelum tahu ada apa pada teknoilogi zaman sekarang???
Penemuan baru apa yang memiliki manfaat yang sangat
besar pada zaman sekarang yang saya sendiri baru tahu kali ini saya kutip
artikel berikut dari salah satu statsion televisi (DW innovator)
Robot pintar dan otonom kini semakin
sering dikerahkan untuk tugas-tugas yang bagi manusia amat berbahaya. Misalnya
membersihkan ranjau, bocoran bahan kimia atau pada kecelakaan atom.
1.
Robot-robot pintar dengan
kemampuan dan bentuk amat beragam, untuk menangani kawasan atau kondisi
berbahaya ditunjukkan dalam kompetisi robot M-ELROB di Swiss yang digelar
baru-baru ini. Robot-robot semacam itu mengikuti kompetisi untuk tugas yang
berbeda-beda dan harus menunjukkan kehandalannya.
Misalnya
saja, sebuah mobil VW Touareg yang dipenuhi perlengkapan teknik berupa sensor
kamera, scanner laser dan komputer, ikut dalam kompetisi yang disebut skenario
keledai. Mobil canggih tanpa pengemudi itu dirancang oleh Thorsten Lüttel,
insinyur sistem otonom di cabang dirgantara dan antariksa pada akademi angkatan
bersenjata Jerman di München.
Sensor
kamera memindai situasi sekitar, scanner laser mengukur jarak dan menciptakan
poin-poin awan tiga dimensi, sementara komputer bertugas menganalisa data, dan
dengan itu mengendalikan mobil secara otonom, dalam arti mengoperasikan gas,
rem, setir dan perpindahan gigi perseneling.
Dalam
kompetisi ini, mobil harus mengikuti mobil di depannya. "Mobil robot itu
tidak tahu harus melaju ke mana. Yang diketahui, harus mengikuti mobil di
depannya, tidak peduli ke mana", kata peneliti dari Universitas München
itu.
Peta tercipta dalam perjalanan
Dalam
kompetisi lainnya, robot diuji dalam skenario kemandirian mencari rute menuju
target yang ditentukan. Robot hanya diberi koordinat posisi GPS dari lokasi
sasaran, tapi samasekali tidak ada peta atau informasi lainnya.
Sebuah
kendaraan kecil dengan penggerak roda berantai seperti tank, buatan Frank
Höller dari Institut Fraunhofer untuk Komunikasi, analisa Informasi dan
Ergonomie (FKIE) ikut serta dalam kompetisi tsb.
Robot
kecil ini harus menemukan sasarannya di medan sulit yang berbukit dan
berlembah. Untuk itu, robot memanfaatkan citra laser yang dibuat sendiri
menjadi sebuah peta. Semakin jauh jarak jelajahnya, semakin besar peta yang
tercipta. "Robot terus berusaha bergerak ke arah target sesuai posisi
koordinat GPS. Jika memasuki jalan buntu, robot membaca peta, untuk menemukan
rute lain, bergerak ke sana dan kembali berusaha mencapai target", kata
Höller.
Scanner laser robot bergerak memutar dan menangkap citra
lingkungan sekitar.
Panitia
kompetisi juga dapat menambah kesulitan. Misalnya dengan menghalangi jalan
mundur robot dengan batangan kayu. Atau juga hambatan yang jauh lebih sulit
dikenali robot. Misalnya kolam air yang permukaannya kelihatan padat atau
ditutupi lumpur.
Juga
rumput yang sebetulnya tidak berbahaya, kadang-kadang tidak dapat dikenali oleh
robot semacam itu. Holler mengenang ujicoba sebelumnya terkait kendala rumput
ini.
"Rutenya
dipertinggi dan rumput tumbuh di kiri kanan jalan. Tinggi rumput, sama persis
dengan tinggi jalan. Saat penala laser membuat citra keseluruhan areal, komputer
tidak dapat mengenali lagi jalan yang ada. Bagi komputer kenampakan areal itu
seluruhnya datar", ujar Holler.
Akibatnya
robot bergerak ke arah rerumputan dan terjebak tidak bisa bergerak di sana.
Inilah salah satu kelemahan teknik di masa lalu, yang kini berusaha terus
diperbaiki.
Mencari dan menemukan
Dalam
kompetisi lainnya, robot harus menemukan rambu peringatan berbentuk bujur
sangkar berwarna oranye. Rambu semacam ini biasanya ditempelkan pada truk
pengangkut bahan beracun dan berbahaya. Robot bertugas memotret rambu itu dan
selanjutnya membuat peta rute ke rambu itu.
Pakar
informatika Torsten Fiolka memasuki kompetisi di cabang ini. Ia memanfaatkan
scanner laser, yang fungsinya tidak hanya mampu mengukur jarak antara dua
benda, melainkan juga intensitas pantulan sinar lasernya.
"Rambu
tanda bahaya itu, secara umum memancarkan refleksi amat kuat, jauh lebih kuat
dibanding obyek lainnya. Jadi, di awan data poin laser saya mencari obyek yang
refleksinya amat kuat dan mengujinya, apakah dimensinya sebesar rambu tanda
peringatan bahaya itu", kata Fioloka menjelaskan metodenya.
Semua
itu bukan sekedar permainan. Sasaran kompetisi ini adalah, mengembangkan
robot-robot yang bertugas membantu militer, polisi atau pemadam kebakaran pada
situasi gawat darurat. Karena itulah M-ELROB digelar di bawah pengawasan ketat
dari calon-calon pelanggang potensial.
Panitia
penyelenggara kompetisi Frank Schneider dari Institut Fraunhofer untuk
Komunikasi, analisa Informasi dan Ergonomie (FKIE) mengatakan, bagaimanapun
juga amat penting mengembangkan robot dengan lebih banyak berorientasi pada
kepentingan operasi dalam kondisi berbahaya atau gawat darurat.
"Pasalnya
komunikasi antara sistem dan pengguna, dalam arti interaksi antara manusia dan
mesin sejauh ini masih dianak tirikan", papar Schneider.
Manusia punya pancaindera lebih unggul
Terdapat
alasan mendasar, mengapa penggunaan robot dalam operasi keamanan atau gawat
darurat masih dipandang secara kritis. Terutama pada penugasan pemadam
kebakaran, dalam situasi gawat darurat, robot-robot penolong itu kebanyakan
masih bergerak amat lamban dan tidak fleksibel.
"Manusia
bereaksi jauh lebih cepat, dan dalam skenario bencana, setiap detiknya amat
menentukan", kata Frank Schneider. "Robot hanya dikerahkan dalam
situasi amat berbahaya . Selebihnya, selalu para petugas penolong yang
mengenakan pakaian pelindung, yang terjun langsung dengan peralatannya",
ujar pakar komunikasi, informasi dan ergonomi itu. .
Menimbang
situasi semacam itu, Andreas Ciossek dari Firma Telerob mengembangkan robot
untuk menjinakkan bom serta mengukur kadar gas berbahaya atau kadar
radioaktivitas. Tapi diakui, sebuah robot tidak dapat menaksir dengan akurat,
apakah sebuah bangunan benar-benar terancam runtuh.
"Jika
manusia berada di dalam bangunan, mereka bisa menegaskan, apakah sebuah tembok
mengalami kerusakan. Manusia bisa mendengar bunyi lirih tembok yang retak, atau
melihat retakan halus. Lewat kamera pada robot, hal itu amat sulit dilihat dan
didengar", kata pembuat robot itu.
Ciossek
mengatakan, robot-robot masakini, juga masih jauh dari apa yang disebut
kecerdasan buatan yang sebenarnya. "Kita harus melepaskan diri dari
gambaran robot cerdas seperti yang ditampilkan dalam film atau layar televisi.
Karena apa yang dalam film nampaknya semua bisa dilakukan, dalam kenyataan
samasekali jauh berbeda", tambah pakar robotika dari Firma Telerob itu.

2.
Sang Naga
Sukses Mendarat
Sebuah wahana ruang angkasa swasta
AS, untuk pertama kalinya bergabung dengan Stasiun Ruang Angkasa Internasional
ISS. Dragon memasok material yang penting untuk kehidupan para astronot yang
bertugas di luar angkasa.
Dragon atau "Sang Naga",
adalah wahana antariksa pengangkut barang milik perusahaan swasta SpaceX dari
California AS. Badan antariksa AS, NASA untuk pertama kalinya dalam sejarah
lembaga itu, menyewa sebuah wahana pengangkut milik swasta. Wahana ini
diluncurkan dari stasiun ruang angkasa Cape Canaveral im di Florida hari Minggu
(07/10).
Awak ISS harus "menangkap"
Dragon, yang tidak memiliki peralatan "docking" agar dapat mendarat
di stasiun ruang angkasa itu. "Dengan menggunakan lengan robot yang ada di
ISS, para astronot berhasil melakukan manuver pendaratan kapsul ruang angkasa
pengangkut barang itu Rabu (10/10) pukul 13 GMT", lapor pusat pengendali
NASA di Florida.
Kapsul ruang angkasa
"Dragon" mengangkut sekitar 400 kg peralatan penting serta bahan
makanan bagi enam astronot yang saat ini "menghuni" ISS. Selain
peralatan untuk penelitian ilmiah dan sukucadang penting, para astronot juga
diberi hadiah kejutan. "Eskrim rasa vanila dan saus coklat juga termasuk
material yang diangkut Dragon", ujar seorang petugas NASA.
Direncanakan 12 penerbangan
Selain itu, Dragon juga dilengkapi
lemari pendingin, untuk mengangkut berbagai hasil penelitian, sampel darah dan
air seni para astronot serta peralatan penelitian dari ISS ke Bumi. Selain itu
wahana pengangkut itu, akan menjadi "truk sampah" yang mengangkut
sekitar 560 kg sampah dari stasiun ruang angkasa ke Bumi.
Penerbangan pertama ini, merupakan
rangkaian dari rencana 12 misi ruang angkasa wahana pengangkut swasta milik
SpaceX sesuai dengan kontrak yang dijalin dengan NASA. Lembaga antarisa
pemerintah AS itu sudah menghapus program "Space Shuttle" atau
penerbangan ulang-aliknya tahun lalu. Hingga 2016 NASA menyewa wahana
transportasi ruang angkasa swasta ini, dengan nilai kontrak 1,6 milyar Dollar.
Maaf sayafull copas ya???
Reff



Posting Komentar